LP2M IAIN PONTIANAK
Kelola Emosi, Jaga Kekompakan: Kunci Sukses Kerja Tim Mahasiswa KKL Sungai Enau 2

Kelola Emosi, Jaga Kekompakan: Kunci Sukses Kerja Tim Mahasiswa KKL Sungai Enau 2


 Sungai Enau, Kuala Mandor B (lp2m.iainptk.ac.id) – Dalam kerja kelompok, terutama pada kegiatan pengabdian seperti Kuliah Kerja Lapangan (KKL), kemampuan mengelola emosi dan menekan ego pribadi menjadi kunci keberhasilan. Hal inilah yang terus diupayakan oleh mahasiswa KKL Kelompok Sungai Enau 2 IAIN Pontianak selama menjalankan program di tengah masyarakat.

Berbeda dengan aktivitas akademik biasa, KKL menuntut mahasiswa untuk hidup, bekerja, dan berinteraksi bersama dalam waktu yang panjang. Dalam kondisi ini, perbedaan pendapat, tekanan pekerjaan, hingga kelelahan fisik dan mental bisa menjadi pemicu konflik apabila tidak diimbangi dengan pengendalian emosi.

Untuk menghindari hal tersebut, mahasiswa diajak untuk saling memahami, menurunkan ego, serta mengutamakan kepentingan bersama demi tercapainya tujuan kelompok. Setiap individu dilatih untuk terbuka terhadap kritik, menerima saran, dan menyelesaikan permasalahan melalui musyawarah.

Diskusi rutin menjadi sarana penting dalam menyalurkan pendapat dan unek-unek agar emosi tidak dipendam terlalu lama. Dalam setiap pengambilan keputusan, seluruh anggota kelompok diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan, namun tetap diarahkan pada kesepakatan bersama.

Sikap saling menghargai dan tidak egois menjadi fondasi kekompakan tim. Ketika setiap anggota mampu mengesampingkan kepentingan pribadi, dinamika kerja berjalan harmonis dan program pengabdian dapat terlaksana dengan baik.

Melalui proses ini, mahasiswa KKL tidak hanya belajar mengabdi kepada masyarakat, tetapi juga mengasah kedewasaan emosional yang akan bermanfaat dalam kehidupan profesional dan sosial mereka di masa mendatang.

Penulis : Annisya Jasmine Shalma Qanayla

Fenomena Air Pasang di Malam Hari, Warga Sungai Enau Pilih Mencuci di Waktu Gelap

Fenomena Air Pasang di Malam Hari, Warga Sungai Enau Pilih Mencuci di Waktu Gelap

 


Sungai Enau, Kuala Mandor B – Desa Sungai Enau, Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, memiliki fenomena alam unik yang memengaruhi aktivitas warganya. Tidak seperti di banyak daerah lain, masyarakat di desa ini justru terbiasa mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga pada malam hari.

Kebiasaan ini dipengaruhi oleh kondisi air parit dan sungai kecil yang mengalir di sekitar permukiman. Saat malam tiba, air mengalami pasang dan mengalir lebih deras, sehingga memudahkan warga untuk mencuci. Sebaliknya, di siang hari air cenderung surut atau mengalir pelan, membuatnya kurang efektif untuk digunakan.

Ibu-ibu rumah tangga biasanya memanfaatkan waktu setelah salat Magrib hingga malam untuk mencuci di bawah jembatan atau di tepi parit. Suasana malam yang sejuk, ditambah melimpahnya air, menjadikan aktivitas mencuci terasa lebih ringan dan nyaman.

Meski dilakukan pada malam hari, warga tetap memperhatikan keamanan. Mereka membawa penerangan seperti senter atau lampu kecil, serta mencuci secara berkelompok sehingga terasa lebih aman sekaligus menjadi ajang berbincang santai.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana masyarakat Desa Sungai Enau mampu menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi alam. Kebiasaan ini tidak hanya menunjukkan kearifan lokal, tetapi juga menjadi ciri khas unik yang memperkaya identitas desa tersebut.

Penulis : Annisya Jasmine Shalma Qanayla

Sarapan Bersama, Cara Mahasiswa KKL Sungai Enau 2 Bangun Kekompakan Tim

Sarapan Bersama, Cara Mahasiswa KKL Sungai Enau 2 Bangun Kekompakan Tim

 


Sungai Enau 2, Kuala Mandor B (lp2m.iainptk.ac.id) – Kebersamaan dan kekompakan menjadi kunci utama dalam menjalankan program Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Hal ini tercermin dari rutinitas mahasiswa KKL Kelompok Sungai Enau 2 IAIN Pontianak yang selalu memulai hari dengan kegiatan sarapan bersama sebelum terjun ke lapangan.

Setiap pagi, para mahasiswa berkumpul menikmati sarapan sederhana yang mereka siapkan secara gotong royong. Momen ini tidak hanya sekadar mengisi energi, tetapi juga menjadi ruang diskusi untuk merencanakan kegiatan, mengevaluasi program yang telah berjalan, serta membahas tantangan yang dihadapi.

Sambil menikmati hidangan berupa kue-kue tradisional atau menu lokal, suasana santai namun produktif tercipta. Mahasiswa saling bertukar pikiran, mendengarkan, dan menghargai pendapat satu sama lain. Dari kebiasaan ini tumbuh rasa saling percaya, kekompakan, serta solidaritas yang kuat di antara anggota kelompok.

Kegiatan sederhana ini terbukti efektif dalam membangun komunikasi yang baik. Semangat kebersamaan yang terbangun dari sarapan bersama tercermin dalam setiap aktivitas mereka bersama masyarakat desa.

Melalui rutinitas pagi ini, mahasiswa KKL Sungai Enau 2 tidak hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga membangun pondasi persaudaraan yang kuat—bekal berharga bagi mereka sebagai generasi penerus bangsa.

Penulis : Annisya Jasmine Shalma Qanayla

Tradisi Mencuci di Parit, Cerminan Kehidupan Sederhana dan Kebersamaan Warga Desa Sungai Enau A

Tradisi Mencuci di Parit, Cerminan Kehidupan Sederhana dan Kebersamaan Warga Desa Sungai Enau A

 


Sungai Enau A, Kuala Mandor B (lp2m.iainptk.ac.id) – Di tengah arus modernisasi, sejumlah tradisi pedesaan masih bertahan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satunya dapat ditemukan di Desa Sungai Enau A, Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, di mana aktivitas mencuci di parit tetap menjadi kebiasaan umum warga hingga kini.

Parit-parit yang mengalir di sepanjang permukiman warga tidak hanya berfungsi sebagai saluran irigasi dan pembuangan air hujan, tetapi juga dimanfaatkan untuk mencuci pakaian, peralatan dapur, hingga mandi. Pemandangan ibu-ibu rumah tangga yang mencuci di bawah jembatan kayu kecil di depan rumah masing-masing sambil bercengkerama dengan tetangga menjadi hal yang lazim ditemui.

Selain memenuhi kebutuhan praktis, aktivitas ini turut mempererat hubungan sosial antarwarga. “Sambil mencuci, kami bisa ngobrol dengan tetangga. Rasanya lebih akrab,” ujar salah seorang warga setempat.

Air parit yang mengalir jernih membuatnya tetap layak digunakan, sementara warga secara sadar menjaga kebersihannya dengan tidak membuang sampah sembarangan serta rutin membersihkan area sekitar jembatan. Beberapa warga juga memanfaatkan air parit untuk menyiram tanaman di halaman rumah mereka.

Tradisi mencuci di parit ini menjadi gambaran nyata kehidupan masyarakat Desa Sungai Enau A yang masih selaras dengan alam dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Kebiasaan sederhana ini tidak hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memperkaya identitas budaya lokal yang patut dilestarikan.

Penulis : Annisya Jasmine Shalma Qanayla

Asal Usul Nama "Parit Kongsi": Simbol Kebersamaan Warga Desa Sungai Enau A

Asal Usul Nama "Parit Kongsi": Simbol Kebersamaan Warga Desa Sungai Enau A


 Sungai Enau A, Kuala Mandor B (lp2m.iainptk.ac.id) – Setiap nama tempat memiliki sejarah dan makna yang mencerminkan identitas serta nilai masyarakatnya. Demikian pula dengan “Parit Kongsi”, salah satu wilayah di Desa Sungai Enau A, Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya. Nama ini bukan sekadar penanda lokasi, melainkan mengandung filosofi kebersamaan dan gotong royong yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam bahasa lokal, kata “Parit” merujuk pada saluran air yang berfungsi mengalirkan air dari satu wilayah ke wilayah lainnya, umumnya untuk keperluan irigasi, pertanian, atau batas wilayah. Sementara itu, “Kongsi” berarti berbagi atau bersama-sama.

Dengan demikian, “Parit Kongsi” memiliki arti parit yang digunakan dan dimanfaatkan secara bersama oleh masyarakat. Dahulu, parit ini dibuat secara gotong royong, dan aliran airnya digunakan untuk mendukung pertanian serta memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari warga. Parit ini menjadi simbol kerja sama dalam mengelola sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan.

Selain berperan sebagai saluran irigasi, parit ini juga menjadi jalur penting dalam mendukung aktivitas pertanian warga. Tradisi berbagi yang melekat pada penamaannya mencerminkan semangat persatuan dan kebersamaan masyarakat.

Hingga kini, nilai-nilai “kongsi” atau berbagi masih terjaga kuat dalam kehidupan sehari-hari warga Parit Kongsi. Nama ini menjadi pengingat bahwa solidaritas dan gotong royong merupakan fondasi penting dalam menjaga keharmonisan dan kemajuan Desa Sungai Enau A.

Penulis : salsabila aulia safitri

Rujakan Sore, Cara Mahasiswa KKL Kelompok Sungai Enau 2 Dekatkan Diri dengan Warga

Rujakan Sore, Cara Mahasiswa KKL Kelompok Sungai Enau 2 Dekatkan Diri dengan Warga

 


Sungai Enau, Kuala Mandor B (lp2m.iainptk.ac.id) – Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tidak hanya diisi dengan program formal, tetapi juga membangun hubungan sosial yang hangat dengan masyarakat setempat. Hal inilah yang dilakukan oleh mahasiswa KKL Kelompok Sungai Enau 2 dari IAIN Pontianak, yang memanfaatkan momen sore hari untuk berinteraksi santai melalui kegiatan merujak bersama warga.

Merujak atau membuat rujak bersama menjadi aktivitas rutin, terutama pada sore hari ketika aktivitas harian telah usai. Mahasiswa dan warga, khususnya para ibu dan anak-anak, berkumpul di sekitar posko untuk menyiapkan aneka buah segar seperti mangga muda, nanas, kedondong, pepaya, dan jambu. Proses mengupas, memotong, hingga mengulek bumbu rujak pedas manis dilakukan bersama-sama, menciptakan suasana penuh keakraban.

Kegiatan ini bukan sekadar menikmati rujak, tetapi juga menjadi ajang saling mengenal, bertukar cerita, dan mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat. Suasana santai yang tercipta membuat interaksi terasa lebih hangat dan personal.

Melalui momen sederhana ini, nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong semakin terasa. Mahasiswa belajar bersosialisasi lebih dekat dengan warga, tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas desa.

Kegiatan rujakan ini meninggalkan kesan mendalam bagi mahasiswa maupun masyarakat, menjadi bukti bahwa hal-hal sederhana dapat memperkuat silaturahmi serta menciptakan kenangan indah selama masa pengabdian di Desa Sungai Enau 2.

Penulis : salsabila aulia safitri

Tradisi Mengaji Sejak Dini, Cerminan Kuatnya Nilai Keislaman di Desa Sungai Enau A

Tradisi Mengaji Sejak Dini, Cerminan Kuatnya Nilai Keislaman di Desa Sungai Enau A

 


Sungai Enau A, Kuala Mandor B (lp2m.iainptk.ac.id) – Desa Sungai Enau A tidak hanya dikenal dengan lingkungan alamnya yang asri dan masyarakatnya yang ramah, tetapi juga dengan tradisi keislaman yang mengakar kuat. Mayoritas warga desa ini berasal dari suku Madura yang dikenal memiliki nilai religius tinggi. Hal tersebut terlihat dari banyaknya anak-anak yang sudah lancar membaca Al-Qur’an sejak usia dini.

Tradisi mengaji telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Sungai Enau A. Sejak usia taman kanak-kanak, anak-anak dibiasakan mengikuti kegiatan mengaji, baik di rumah, surau, maupun musholla yang tersebar di desa. Bimbingan penuh perhatian dari orang tua serta ketekunan para guru ngaji menjadikan kemampuan membaca Al-Qur’an sebagai pencapaian awal yang membanggakan.

Selain membaca, anak-anak juga mulai menghafal surah-surah pendek serta mempelajari makna dasar dari ayat-ayat suci. Kegiatan mengaji biasanya dilakukan selepas Magrib hingga menjelang Isya, sekaligus menjadi sarana mempererat ikatan antara anak-anak, orang tua, dan masyarakat.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran penting keluarga, lingkungan yang mendukung, serta kuatnya budaya Islam dalam kehidupan masyarakat suku Madura di desa tersebut. Pendidikan agama tetap menjadi pondasi utama dalam membentuk karakter generasi muda.

Tradisi mengaji yang telah diwariskan turun-temurun ini diharapkan terus terjaga, sehingga anak-anak Desa Sungai Enau A tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam nilai spiritual dan moral.

Penulis : salsabila aulia safitri

Tradisi Mengambil Sayuran Liar, Wujud Kearifan Lokal di Desa Sungai Enau A

Tradisi Mengambil Sayuran Liar, Wujud Kearifan Lokal di Desa Sungai Enau A

 


Sungai Enau A, Kuala Mandor B (lp2m.iainptk.ac.id) – Desa Sungai Enau A, Kabupaten Kubu Raya, masih mempertahankan gaya hidup alami dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu tradisi yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat setempat adalah kebiasaan mengambil sayuran langsung dari alam tanpa harus membelinya di pasar.

Alam sekitar desa yang masih subur menyediakan beragam tanaman liar yang dapat dikonsumsi, seperti pakis, daun singkong, kangkung liar, genjer, hingga pucuk labu. Tanaman-tanaman ini tumbuh bebas di tepi sungai, ladang, maupun halaman rumah warga. Aktivitas ini menjadi rutinitas harian, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga yang setiap pagi atau sore pergi memetik sayuran segar untuk diolah menjadi hidangan sehat keluarga.

Selain membantu menghemat pengeluaran, kebiasaan ini juga memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi tetap sehat karena bebas dari bahan kimia tambahan. Tidak hanya itu, tradisi ini sarat dengan nilai gotong royong dan kebersamaan. Warga yang memperoleh sayuran lebih dari cukup biasanya akan berbagi dengan tetangga, mempererat hubungan sosial di antara mereka.

Gaya hidup alami masyarakat Desa Sungai Enau A menjadi bukti bahwa kehidupan pedesaan mampu berjalan selaras dengan alam. Kearifan lokal ini tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat lain dalam menjaga kesehatan dan membangun kebersamaan.

Penulis : Salsabila Aulia Safitri

Perkebunan Sawit Jadi Penopang Utama Ekonomi Desa Sungai Enau A

Perkebunan Sawit Jadi Penopang Utama Ekonomi Desa Sungai Enau A

 


Sungai Enau A, Kuala Mandor B (lp2m.iainptk.ac.id) – Desa Sungai Enau A, yang berada di Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, dikenal sebagai salah satu desa dengan perekonomian yang bertumpu pada sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit. Hampir seluruh kepala keluarga di desa ini memiliki lahan sawit, baik dalam skala kecil maupun menengah, menjadikan komoditas ini sebagai sumber penghasilan utama masyarakat.

Kondisi geografis serta kesuburan tanah yang mendukung membuat tanaman sawit tumbuh optimal di wilayah ini. Mulai dari proses pembibitan, penanaman, hingga panen dan penjualan tandan buah segar (TBS), masyarakat mengelolanya secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan perusahaan mitra.

Hasil dari perkebunan sawit tidak hanya memberikan pemasukan rutin bagi keluarga, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Berkat pendapatan dari sawit, banyak warga mampu menyekolahkan anak hingga ke jenjang perguruan tinggi, memperbaiki rumah, bahkan membuka usaha sampingan.

Meski demikian, masyarakat dihadapkan pada tantangan seperti fluktuasi harga TBS dan biaya perawatan tanaman yang tidak murah. Namun, semangat warga untuk mempertahankan sawit sebagai mata pencaharian utama tetap tinggi.

Melalui pemanfaatan potensi lokal ini, Desa Sungai Enau A menunjukkan bahwa perkebunan sawit bukan hanya penggerak ekonomi, tetapi juga telah menjadi bagian penting dari identitas desa dan simbol kemandirian warganya.

Penulis : Nurlita Sari

Hari Keenam KKL di Desa Punggur Kecil: Gotong Royong, Kunjungan Kampung Literasi, dan Rapat Evaluasi

Hari Keenam KKL di Desa Punggur Kecil: Gotong Royong, Kunjungan Kampung Literasi, dan Rapat Evaluasi

 


Punggur Kecil, 27 Juli 2025 (lp2m.iainptk.ac.id) – Memasuki hari keenam pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Desa Punggur Kecil, mahasiswa IAIN Pontianak kembali menunjukkan semangat kebersamaan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat. Sejak pukul 07.00 WIB, mahasiswa turun ke lapangan sesuai wilayah RT masing-masing untuk membantu warga membersihkan area Jalan Parit Leban Punggur Kecil. Kegiatan gotong royong ini juga diikuti oleh mahasiswa Universitas Tanjungpura yang turut melaksanakan pengabdian di lokasi yang sama.

Tak berhenti di sana, sekitar pukul 09.30 WIB kegiatan berlanjut di Jalan Parit Deraman Hulu, tepatnya di sekitar posko KKL. Kehadiran mahasiswa disambut hangat oleh warga, menciptakan suasana kerja sama yang solid antara masyarakat dan peserta KKL.

Kunjungan ke Kampung Literasi

Pada sore harinya, rombongan mahasiswa KKL mengunjungi Kampung Literasi Desa Punggur Kecil yang terletak di Jalan Parit Tembakul. Kunjungan ini bertujuan menjalin silaturahmi sekaligus berdiskusi mengenai program kerja yang akan dilaksanakan di lokasi tersebut. Salah satu agenda utama adalah kegiatan cek kesehatan dan bekam gratis yang direncanakan digelar dalam waktu dekat.

Salah seorang pengurus Kampung Literasi menyampaikan antusiasmenya,

“Oh bagus, terakhir kegiatan bekam di sini pada tahun 2020, dan masyarakat beberapa kali bertanya kapan lagi ada bekam gratis tersebut. Mereka sangat menantikan kegiatan ini.”

Antusiasme masyarakat tersebut semakin memotivasi mahasiswa KKL untuk mempersiapkan program-program yang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan warga. Diskusi hangat yang terjalin menjadi ajang tukar gagasan demi kelancaran pelaksanaan kegiatan mendatang, sekaligus mempererat hubungan mahasiswa dengan masyarakat desa.

Rapat Evaluasi Malam Hari

Menutup rangkaian kegiatan, malam harinya mahasiswa KKL melaksanakan rapat evaluasi di posko. Rapat ini membahas jalannya kegiatan hari keenam sekaligus mempersiapkan agenda untuk esok hari. Suasana rapat berlangsung penuh semangat, mencerminkan kekompakan dan rasa tanggung jawab seluruh tim dalam menjalankan setiap program yang telah direncanakan.

Hari keenam ini menjadi bukti nyata dedikasi mahasiswa KKL IAIN Pontianak dalam mengabdikan diri di Desa Punggur Kecil, melalui kerja sama, inovasi program, dan sinergi yang kuat bersama masyarakat.

Penulis : Aisah

Struktur Organisasi LP2M

Formulir Kontak