Juni 2026 - LP2M IAIN PONTIANAK
Mahasiswa Pejuang Inklusi IAIN Pontianak Raih Prestasi pada Lomba MTQ dan Dakwah Tingkat Nasional

Mahasiswa Pejuang Inklusi IAIN Pontianak Raih Prestasi pada Lomba MTQ dan Dakwah Tingkat Nasional

 

Pontianak – Kabar membanggakan datang dari mahasiswa pejuang inklusi IAIN Pontianak. Tiga mahasiswa berhasil menorehkan prestasi gemilang pada ajang Lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) dan Dakwah Tingkat Nasional yang diselenggarakan di Pondok Pesantren An Nawawi, Jawa Tengah, pada 19 Juni 2026.

Dalam kompetisi yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, mahasiswa IAIN Pontianak berhasil meraih beberapa penghargaan, yaitu:

  • Siti Farhatun Nufus meraih Juara 1 Tilawah Putri.
  • Andi Safira Atira meraih Juara 2 Tahfiz Putri.
  • Nanda Meilisa Fitri meraih Juara 2 Dakwah Putri.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa penyandang disabilitas memiliki potensi yang luar biasa untuk bersaing dan berprestasi di tingkat nasional. Keberhasilan tersebut juga mencerminkan komitmen IAIN Pontianak dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, ramah disabilitas, serta memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.

Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi IAIN Pontianak menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas capaian yang diraih para mahasiswa tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi mahasiswa yang bersangkutan, tetapi juga bagi seluruh sivitas akademika IAIN Pontianak.

"Prestasi ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki," ujarnya.

Selain membawa nama baik kampus, pencapaian ini juga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas tentang pentingnya memberikan ruang dan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas untuk berkarya dan berkontribusi.

Dengan raihan prestasi tersebut, IAIN Pontianak berharap dapat terus mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa pejuang inklusi melalui berbagai program pembinaan, pendampingan, dan penguatan kompetensi sehingga mampu berkiprah di berbagai ajang akademik maupun nonakademik di tingkat nasional maupun internasional.

Selamat dan sukses kepada para juara. Semoga prestasi ini menjadi langkah awal menuju capaian yang lebih tinggi dan membawa keberkahan bagi semua.


Melalui PKDP 2026, Dosen FTIK IAIN Pontianak Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme

Melalui PKDP 2026, Dosen FTIK IAIN Pontianak Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme

 

Empat Dosen FTIK IAIN Pontianak mengikuti Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh UIN Walisongo Semarang pada 8–23 Juni 2026. Dosen yang dimaksud antara lain, Didi Darmadi, M.Lett., M.Pd., Septian Utut Sugiatno, M.Pd., Resvan, M.Pd., dan Maria Ulfa, M.Pd. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas dan profesionalisme dosen dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pelatihan dilaksanakan secara online atau pembelajaran daring.

Program ini secara resmi dibuka oleh Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., dan diikuti oleh 144 dosen pemula dari berbagai perguruan tinggi keagamaan yang berada di wilayah Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Melalui program ini, peserta memeroleh berbagai materi dan pengalaman yang mendukung pengembangan kompetensi sebagai dosen, baik dalam bidang pembelajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. UIN Walisongo Semarang pada tahun ini menjadi salah satu perguruan tinggi yang ditunjuk oleh Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai penyelenggara PKDP dengan peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi keagamaan di wilayah Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Pelaksanaan Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) Tahun 2026 di UIN Walisongo Semarang dilakukan melalui tiga tahapan utama. Kegiatan diawali dengan In Service Course 1 (ISC-1), yaitu sesi pembelajaran intensif yang berlangsung selama tiga hari dan berisi berbagai materi penguatan kompetensi dasar dosen. Setelah itu, peserta mengikuti On the Job Course (OJC) selama enam hari untuk mengimplementasikan hasil pembelajaran yang telah diperoleh ke dalam praktik pembelajaran dan aktivitas akademik di perguruan tinggi masing-masing. Tahap terakhir adalah In Service Course 2 (ISC-2) yang difokuskan pada evaluasi, refleksi, serta ujian akhir sebagai bagian dari penilaian capaian kompetensi peserta.

Salah satu dosen FTIK IAIN Pontianak sekaligus peserta PKDP, Septian Utut Sugiatno, M.Pd. mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menjadi kesempatan yang berharga untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai dosen pemula. Ia menilai materi yang diberikan sangat komprehensif karena mencakup berbagai aspek penting, mulai dari pengembangan karier akademik, peningkatan kualitas pembelajaran, hingga penguatan wawasan keilmuan dan moderasi beragama. Melalui program ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga mendapatkan bekal praktis yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Menurutnya, pengalaman belajar dan berdiskusi bersama peserta dari berbagai perguruan tinggi turut memperluas perspektif serta memperkuat motivasi untuk terus mengembangkan kompetensi sebagai pendidik profesional.

Sementara itu, Didi Darmadi, M.Lett., M.Pd. yang turut menjadi peserta PKDP menilai  berharap agar seluruh peserta PKDP diberikan kemudahan dalam mengikuti setiap tahapan kegiatan hingga selesai. Ia berharap semangat belajar dan kebersamaan yang terbangun selama program dapat terus terjaga sehingga seluruh peserta mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan baik dan dinyatakan lulus. Baginya, PKDP bukan hanya menjadi syarat pengembangan karier dosen, tetapi juga menjadi wadah untuk meningkatkan kompetensi, memperluas jejaring akademik, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang semakin dinamis.




IAIN Pontianak Optimis Membangun Kampus Inklusif melalui Pendampingan Relawan PLD bagi Mahasiswa Tuli

IAIN Pontianak Optimis Membangun Kampus Inklusif melalui Pendampingan Relawan PLD bagi Mahasiswa Tuli

 

Pontianak –10 Juni 2026. Hari ke dua kegiatan Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas difokuskan pada pendampingan mahasiswa tuli (tunarungu) sebagai bagian dari upaya mewujudkan kampus yang inklusif.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) ini menghadirkan Fahri sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejumlah hambatan yang masih dihadapi mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan perguruan tinggi.

Menurut Fahri, terdapat tiga hambatan utama yang perlu menjadi perhatian. Pertama, hambatan aksesibilitas fisik, seperti gedung kampus yang belum sepenuhnya dilengkapi jalur landai (ramp), lift, maupun fasilitas toilet yang ramah bagi pengguna kursi roda. Kedua, keterbatasan teknologi bantu dan materi pembelajaran, di mana mahasiswa disabilitas netra maupun tuli sering mengalami kesulitan mengakses materi akademik akibat minimnya buku braille, perangkat lunak pembaca layar, serta penerjemah bahasa isyarat di kelas. Ketiga, hambatan dalam proses akademik, yaitu kesulitan memahami materi perkuliahan karena metode pembelajaran yang belum sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa disabilitas.

Berbeda dengan hari pertama yang lebih menitikberatkan pada penyampaian materi, kegiatan hari kedua menggabungkan sesi materi dan praktik simulasi. Para peserta diajak untuk memahami berbagai situasi yang mungkin dihadapi mahasiswa disabilitas serta mencari solusi yang tepat dalam memberikan pendampingan.

Melalui simulasi tersebut, para relawan PLD dibekali keterampilan untuk mendukung proses pembelajaran mahasiswa inklusi sehingga mereka dapat mengikuti kegiatan akademik secara optimal. Meskipun memiliki fokus yang berbeda, rangkaian kegiatan pada hari pertama dan kedua merupakan satu kesatuan program yang bertujuan meningkatkan kapasitas relawan dalam mendampingi mahasiswa disabilitas.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen IAIN Pontianak dalam membangun lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif, ramah disabilitas, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk berkembang dan meraih prestasi.





LP2M IAIN Pontianak Perkuat Layanan Inklusif Kampus Melalui Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas

LP2M IAIN Pontianak Perkuat Layanan Inklusif Kampus Melalui Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas

IAIN Pontianak – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak melalui Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi menyelenggarakan kegiatan Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat layanan inklusif di lingkungan kampus Institut Agama Islam Negeri Pontianak.

Ketua Panitia Pelaksana, Nopita Sari, M.Pd, menjelaskan bahwa short course relawan ini dilaksanakan selama tiga hari dengan melibatkan enam narasumber. Pesertanya berjumlah lima belas orang, terdiri dari lima tenaga kependidikan dan sepuluh mahasiswa. Pelatihan ini diadakan di Ruang VIP Gedung Abdul Rani Mahmud Alyamani IAIN Pontianak.

"Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kampus yang ramah inklusi, tidak hanya dari segi fasilitas, tetapi yang jauh lebih penting adalah terciptanya keramahan dan semangat gotong royong antara mahasiswa dan pegawai dalam melayani," ujar Nopita Sari.

Mahasiswa semester enam yang mengikuti KKL (Kuliah Kerja Lapangan) Reguler dan Konversi dapat memanfaatkan kegiatan kerelawanan ini sebagai salah satu bentuk pengabdian. Nilai pengabdian yang dilakukan para relawan nantinya bisa dikonversi menjadi nilai KKL.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pejabat kampus, termasuk para Dekan dan Kepala Bagian dari masing-masing Fakultas, sekaligus menjadi ajang sosialisasi menyeluruh tentang pentingnya inklusi. Sekretaris LP2M IAIN Pontianak, Andry Fitriyanto, M.Ud, dalam sambutannya menyatakan bahwa realitas pendampingan disabilitas merupakan tuntutan yang tak terhindarkan, baik dari segi akreditasi program studi dan lembaga maupun standar ISO (International Organization for Standardization).

 "Jumlah mahasiswa disabilitas menjadi salah satu indikator penilaian yang sangat penting," tegasnya. IAIN Pontianak menunjukkan komitmennya sebagai kampus ramah disabilitas dengan membentuk Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi di bawah LP2M, serta menerapkan program Nol UKT bagi mahasiswa disabilitas. Andry Fitriyanto menegaskan, "Pendidikan adalah hak asasi bagi seluruh warga negara Indonesia, termasuk anak-anak disabilitas. Walaupun masih banyak keterbatasan, kami tetap berupaya semaksimal mungkin."

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak individu disabilitas yang belum mendapatkan akses pendidikan secara maksimal karena berbagai keterbatasan. Untuk mengatasi hal ini, IAIN Pontianak telah menyusun pedoman pendampingan disabilitas dan semakin diperkuat dengan adanya Short Course Pendampingan Mahasiswa Disabilitas ini.

"Terkait sarana dan prasarana adalah hal terpenting, namun jika belum tersedia secara lengkap, yang lebih penting lagi adalah kita membangun ekosistemnya," imbuh Andry. Ia berharap output dari kegiatan ini dapat menjadikan mahasiswa dan tenaga kependidikan sebagai pelopor terwujudnya Kampus IAIN Pontianak yang benar-benar inklusif.



Edisi Spesial, GEDEBUK Kupas Diaspora Madura

Edisi Spesial, GEDEBUK Kupas Diaspora Madura

PONTIANAK – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak kembali menggelar Gerakan Dedah Buku (GEDEBUK) #EpisodeSpesial pada Rabu (3/6/2026). Berbeda dari biasanya, episode kali ini lebih spesial. Mulai dari pemilihan lokasi yang bertempat di Ruang Rapat Senat, kemudian dua pemateri yang dihadirkan memiliki latar belakang sangat kontras namun saling melengkapi. Agenda krusial ini dipandu langsung oleh Andry Fitriyanto, selaku Sekretaris LP2M IAIN Pontianak.

Sebuah karya monumental berjudul "DIASPORA MADURA (Resiliensi Strategi dan Transformasi Pasca Konflik Etnik)" karya Abdur Rozaki, sebuah buku yang lahir dari hasil penelitian mendalam selama empat tahun.

Agenda ini menyedot perhatian besar dengan dihadiri oleh 60 peserta yang mendaftar, terdiri dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), mahasiswa, hingga masyarakat umum. Diskusi ini dinilai sangat krusial, terutama sebagai jembatan informasi bagi generasi milenial dan Gen Z yang tidak mengalami langsung peristiwa kelam tersebut secara empiris.

Hadir sebagai panelis, Subro, seorang aktivis sekaligus budayawan etnik Madura di Kalimantan Barat, membagikan perspektifnya yang mendalam sebagai salah satu penyintas konflik. Ia mengurai kembali lini masa konflik komunal di Kalbar, mulai dari konflik 1997 di Kabupaten Bengkayang, konflik 1999 di Kabupaten Sambas, kerusuhan Sampit pada 2001, hingga ketegangan pada tahun 2009 yang melahirkan Seruan Pontianak.

"Buku ini membahas masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua tentang bagaimana menyikapi masa depan agar hal serupa tidak terulang," tegas Subro.
Senada dengan Subro, Eka Henry Ar (Akademisi IAIN Pontianak) yang bertindak sebagai pembedah, memaparkan bahwa konflik sosial sebesar itu tidak berdiri sendiri melainkan berlapis (berlayer-layer). Menurutnya, untuk memahami konflik Kalbar tidak bisa hanya melihat tahun 1997 atau 1999 saja, melainkan harus membaca sejarah kekerasan yang panjang sejak masa kolonialisme, Orde Lama, hingga Orde Baru.

Eka menjelaskan tiga faktor utama pemicu konflik yang diulas dalam buku:
  1. Benturan atau perbedaan kultural.
  2. Kelemahan institusional.
  3. Persaingan ekonomi.

"Suku-suku sebenarnya adalah korban. Hal terpenting dari buku ini adalah melihat bagaimana reaksi atau respon pasca-konflik. Melalui resiliensi, strategi, dan transformasi, terjadilah mobilitas sehingga membuat etnik Madura kini mampu setara di berbagai sektor dan mengubah stereotip lama seiring berjalannya waktu," jelas Eka Henry.

Suasana acara berlangsung sangat dinamis. Peserta tampak antusias dan menyimak dengan saksama setiap pemaparan. Sesi diskusi pun menghangat ketika muncul pertanyaan kritis dari peserta mengenai kenyataan di lapangan, seperti masih adanya resistensi atau penolakan terselubung terkait ruang tinggal bagi etnik Madura di wilayah tertentu seperti Sambas yang menunjukkan pekerjaan rumah toleransi belum sepenuhnya usai.

Kegiatan ini menuai respons positif dari para mahasiswa yang hadir. Mereka menilai bedah buku seperti GEDEBUK ini memberikan sudut pandang baru yang lebih jernih dan objektif. Reza Kurniawan, mahasiswa IAIN Pontianak, mengungkapkan rasa bangganya bisa hadir dalam forum ilmiah ini.

"Kegiatan ini sangat positif untuk mahasiswa. Kita bisa melihat, memahami, dan mengambil ibroh (pelajaran) dari pesan yang disampaikan. Lewat pemateri yang luar biasa, saya mendapatkan sudut pandang baru yang lebih luas, sekaligus mengevaluasi persepsi yang mungkin selama ini salah saya pahami," ujarnya.

Apresiasi serupa juga datang dari Dedek, mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) yang sengaja hadir. Meski belum membaca bukunya secara utuh, ia merasa diskusi ini memberikan gambaran yang sangat komprehensif.

"Saya senang sekali hari ini bisa melihat konteks konflik etnis Kalbar 1999 secara menyeluruh. Menariknya, forum ini berhasil menggeser sudut pandang bahwa konflik terjadi bukan sekadar karena perbedaan kultur, melainkan akibat kelalaian sistem dan kegagalan struktural. Buku ini diharapkan bisa membuka ruang kritis dan ruang diskusi terhadap hak-hak korban serta penyintas," pungkas Dedek.

Melalui episode spesial GEDEBUK ini, LP2M IAIN Pontianak berharap edukasi sejarah berbasis riset ini dapat terus dirawat, demi membangun masa depan Kalimantan Barat yang lebih damai, inklusif, dan harmonis.





 

 

Struktur Organisasi LP2M

Formulir Kontak