LP2M IAIN PONTIANAK

View AllPengumuman

View AllKorpus Jurnal

LP2M IAIN Pontianak Gelar Audit Mutu Internal (AMI) Hadirkan Auditor Kolaborasi Eksternal dan Internal

LP2M IAIN Pontianak Gelar Audit Mutu Internal (AMI) Hadirkan Auditor Kolaborasi Eksternal dan Internal

 

LP2M IAIN Pontianak —Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak menggelar Audit Mutu Internal (AMI) pada Selasa, pukul 09.00 WIB, di Ruang Rapat LP2M.

Pelaksanaan AMI kali ini terasa istimewa karena menghadirkan kombinasi asesor lintas lini, yakni kolaborasi antara auditor eksternal dan internal. Bertindak sebagai Ketua Auditor adalah Rizmahardian Ashari Kurniawan, Ph.D. yang hadir dari unsur eksternal, didampingi oleh Muhammad Habibi, M.I.Kom. sebagai anggota tim dari unsur auditor internal. Perpaduan sudut pandang profesional ini diharapkan mampu memberikan asesmen yang objektif, komprehensif, dan bernilai strategis bagi pengembangan lembaga.

Kegiatan penting ini dihadiri secara lengkap oleh jajaran pimpinan dan pengelola di lingkungan LP2M. Turut hadir dalam ruang rapat tersebut Ketua LP2M IAIN Pontianak, Sekretaris LP2M, Koordinator Pusat (Korpus) Penelitian, Koordinator Pusat (Korpus) Pengabdian kepada Masyarakat, serta jajaran staf LP2M yang turut mendampingi kelengkapan dokumen dan data dukung.

Acara dibuka dengan suasana hangat dan penuh keterbukaan. Dalam pelaksanaannya, tim auditor melakukan verifikasi mendalam terhadap berbagai dokumen instrumen mutu, capaian kinerja program riset, tata kelola publikasi, hingga efektivitas pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat. Sesi diskusi dan tanya jawab pun berlangsung interaktif, di mana para pengelola pusat dan staf aktif memberikan penjelasan serta menerima berbagai masukan konstruktif demi perbaikan tata kelola kelembagaan.

Melalui sinergi dalam pelaksanaan AMI ini, LP2M IAIN Pontianak optimis dapat terus mewujudkan budaya mutu (quality culture) yang berkelanjutan. Hasil dari audit ini nantinya akan menjadi landasan penting dalam perumusan langkah-langkah strategis, sekaligus memperkuat akuntabilitas institusi dalam menyongsong berbagai target mutu perguruan tinggi ke depan.





LP2M Gelar Rapat Koordinasi Persiapan Tracer Study dan Survei Kepuasan Pengguna Lulusan tahun 2026

LP2M Gelar Rapat Koordinasi Persiapan Tracer Study dan Survei Kepuasan Pengguna Lulusan tahun 2026

 

LP2M IAIN Pontianak —Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak menggelar rapat koordinasi guna mematangkan persiapan pelaksanaan Tracer Study dan Survei Kepuasan Pengguna Lulusan tahun 2026. Rapat ini dipimpin langsung oleh Koordinator Pusat Karir, Ain Rahmi, S.E.I., M.E.I., yang juga bertindak sebagai Ketua Panitia, serta melibatkan 20 orang panitia yang merupakan perwakilan dari seluruh unit di lingkungan IAIN Pontianak.

Pertemuan tersebut berfokus menyusun strategi pengumpulan data, pembagian peran lintas unit, dan pemanfaatan teknologi informasi demi menyukseskan program pendataan tahun ini. Dalam rapat tersebut, tim kepanitiaan Tracer Study 2026 secara resmi dibentuk untuk menelusuri alumni angkatan 2025 beserta pengguna lulusannya (user) dengan memanfaatkan aplikasi PRIMA dari Kementerian Agama.

Dari hasil rapat koordinasi tersebut, dirumuskan empat poin utama dan strategi pelaksanaan sebagai berikut:

Pertama, pembagian peran dan sinergi lintas unit. Sinergi antarunit diperkuat melalui pembagian tugas yang jelas. Panitia Tingkat Fakultas dan Pascasarjana bertanggung jawab menyebarkan tautan instrumen yang disiapkan institut. Biro Administrasi bertugas menyediakan data resmi wisudawan/wisudawati. Pusat Teknologi Informasi dan Data (PTID) menyuplai data dari sistem SISKA serta menyiapkan aplikasi penelusuran alumni angkatan 2024 yang terintegrasi di domain web resmi IAIN Pontianak. Sementara itu, LP2M akan menurunkan tim untuk mendampingi panitia dalam kunjungan langsung ke instansi pengguna lulusan.

Kedua,  strategi pendataan berkelanjutan berbasis teknologi. Penelusuran alumni angkatan 2024 akan menggunakan aplikasi khusus berbasis domain web institusi. Untuk alumni angkatan 2026, pendataan awal dilakukan lebih dini melalui pemindaian barcode saat proses pengambilan ijazah. Ke depan, seluruh data alumni akan disentralisasikan melalui sistem satu pintu guna mempermudah pelaksanaan tracer study.

Ketiga, koordinasi jaringan ILUNI dan pembagian tugas tim. LP2M berkoordinasi dengan Ikatan Alumni (ILUNI) untuk membentuk rayon alumni di setiap kabupaten/kota. Terkait atribut dan keseragaman ILUNI, kepengurusannya dipercayakan kepada Tamam selaku penanggung jawab (PJ) seiring dengan komunikasi yang terus dikonsolidasikan bersama Ketua ILUNI. Pembagian tugas internal tim tracer juga telah dirumuskan secara terstruktur agar target kerja tercapai optimal.

Keempat, penyesuaian teknis instrumen. Pelaksanaan tahun ini berfokus penuh pada target Tracer Study 2026. Terdapat penyempurnaan pada instrumen survei, salah satunya adalah penghapusan kolom Nomor Induk Mahasiswa (NIM) untuk menyederhanakan dan mempermudah proses pengisian data oleh para responden.

Melalui koordinasi komprehensif dan pemanfaatan sistem digital yang terintegrasi ini, LP2M optimis pelaksanaan Tracer Study dan Survei Kepuasan Pengguna Lulusan 2026 dapat menjangkau sebaran alumni secara lebih luas serta menghasilkan data evaluasi yang akurat demi peningkatan mutu institusi ke depan.

Sinergi Perkuat Layanan Hukum dan Hak Kekayaan Intelektual, Korpus PKBH Lakukan Koordinasi Strategis dengan Kanwil Kemenkum Kalbar

Sinergi Perkuat Layanan Hukum dan Hak Kekayaan Intelektual, Korpus PKBH Lakukan Koordinasi Strategis dengan Kanwil Kemenkum Kalbar


LP2M IAIN Pontianak
— Koordinator Pusat (Korpus) Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum (PKBH), Qomaruz Zaman, S.H.I., M.S.I bersama tim melaksanakan kunjungan audiensi di Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kanwil Kemenkum) Kalimantan Barat pada hari Rabu, 23 September 2026. Pertemuan ini dilaksanakan guna memperkuat kolaborasi dalam bidang pelayanan hukum kepada masyarakat serta pengembangan kelembagaan.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas beberapa poin krusial yang menjadi fokus kerja sama ke depan, antara lain: Persiapan Akreditasi PKBH: Pertama, pembahasan mendalam terkait langkah-langkah strategis dan pemenuhan persyaratan dalam rangka proses akreditasi lembaga PKBH di bawah naungan Kementerian Hukum. Kedua, pembentukan Sentra Kekayaan Intelektual (KI) dan Paten: Rencana kolaborasi untuk mendirikan Sentra Kekayaan Intelektual dan Paten PKBH guna mendorong perlindungan hukum terhadap karya inovasi serta produk intelektual. Ketiga, pengadaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Paralegal: Sinergi dalam penyelenggaraan diklat paralegal demi mencetak sumber daya manusia yang kompeten dalam memberikan bantuan hukum dasar di tengah masyarakat. Keempat, penyediaan Pemateri Kuliah Umum Legal Drafting: Permohonan dukungan narasumber ahli dari Kanwil Kemenkum Kalbar untuk mengisi kegiatan kuliah umum terkait teknik pembuatan peraturan perundang-undangan (legal drafting).

Melalui koordinasi ini, diharapkan hubungan kelembagaan antara PKBH dan Kanwil Kemenkum Kalbar semakin erat, serta mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesadaran hukum dan pelayanan publik di Kalimantan Barat.
Perkuat Sinergi Tri Dharma, LP2M IAIN Pontianak dan Pemkab Mempawah Bahas MoU dan PKS Kerja Sama

Perkuat Sinergi Tri Dharma, LP2M IAIN Pontianak dan Pemkab Mempawah Bahas MoU dan PKS Kerja Sama

 

MEMPAWAH,_Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak menggelar pertemuan strategis bersama Pemerintah Kabupaten Mempawah di Ruang Junjung Titah, Kantor Bupati Mempawah. Pertemuan tersebut dilaksanakan guna membahas substansi Kesepakatan Bersama (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai langkah penguatan kemitraan strategis dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan pembangunan daerah.

Dalam pertemuan strategis tersebut dihadiri langsung oleh Ketua dan Sekretaris LP2M IAIN Pontianak. Turut mendampingi, Kepala Bagian Umum dan Layanan Akademik IAIN Pontianak, Muhammad Syahrun. Sementara itu, pihak Pemerintah Kabupaten Mempawah diwakili oleh Staf Ahli Bupati, didampingi oleh tim dari Bidang Hukum, Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Dinas Pendidikan, serta Dinas Sosial.

Kedua belah pihak secara mendalam membahas substansi Kesepakatan Bersama, mencakup penetapan ruang lingkup kerja sama, perumusan bentuk kegiatan, hingga mekanisme pelaksanaan program yang dapat dikembangkan secara bersama. Pembahasan detail ini dilakukan untuk memastikan bahwa kerja sama yang dibangun mampu memberikan manfaat nyata dan saling menguntungkan bagi kedua instansi serta masyarakat Kabupaten Mempawah.

Salah satu fokus utama dalam pertemuan ini adalah pembentukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) khusus terkait pelaksanaan program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa IAIN Pontianak di Kabupaten Mempawah. Program KKL dirancang sebagai wadah utama bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar secara langsung di tengah masyarakat sekaligus mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh di bangku kuliah. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat berinteraksi aktif, memahami potensi dan persoalan lokal, serta memberikan kontribusi nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Melalui kemitraan ini, kedua pihak menyepakati pola kerja sama yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan jangka pendek, melainkan dapat dikembangkan secara berkelanjutan di berbagai bidang strategis. Kolaborasi sinergis antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat ini diharapkan mampu mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang lebih kontekstual, berdampak luas, serta memperluas kontribusi IAIN Pontianak terhadap pembangunan daerah di Kabupaten Mempawah.

LP2M IAIN Pontianak Gelar Meet and Greet Mahasiswa Pejuang Inklusi: "Bersama dalam Keberagaman, Tumbuh dalam Inklusi"

LP2M IAIN Pontianak Gelar Meet and Greet Mahasiswa Pejuang Inklusi: "Bersama dalam Keberagaman, Tumbuh dalam Inklusi"


 LP2M IAIN PONTIANAK – Koordinator Pusat Pelayanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak menggelar kegiatan Meet and Greet bersama Mahasiswa Pejuang Inklusi pada Kamis, 13 Agustus 2026. Acara yang mengusung tema "Bersama dalam Keberagaman, Tumbuh dalam Inklusi" ini berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Ruang Rapat LP2M IAIN Pontianak mulai pukul 08.00 WIB.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua LP2M, Sekretaris LP2M, serta Koordinator Pusat Pelayanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi. Sebanyak 15 mahasiswa disabilitas turut hadir dalam acara ini, didampingi oleh 2 orang pendamping yang akrab disapa sebagai Sahabat Pejuang Inklusi.

Dalam sambutannya, Ketua LP2M menyampaikan dukungan penuh (full support) terhadap seluruh aktivitas dan pengembangan potensi mahasiswa disabilitas di kampus IAIN Pontianak. Beliau menegaskan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan karier dan masa depan.

"Jangan pernah ragu dan minder. Pastikan kebutuhan serta perjuangan kalian sejajar dengan mahasiswa lainnya. Kesuksesan berkarir terbuka lebar untuk siapa saja. Tetap semangat agar bisa lulus tepat waktu dengan capaian nilai akademik yang memuaskan," ujar Ketua LP2M memberi motivasi.

Sesi berlanjut ke acara inti yang berlangsung interaktif dan akrab. Para mahasiswa saling memperkenalkan diri, mulai dari nama, fakultas, program studi, hingga hobi masing-masing. Untuk mempererat rasa kebersamaan dan melatih daya ingat, korpus memberikan tantangan unik di mana setiap peserta diwajibkan mengingat minimal empat nama rekan nya.

 Suara dan Harapan Mahasiswa Pejuang Inklusi

Setelah seluruh rangkaian acara usai, sesi dilanjutkan dengan penyampaian kesan, pengalaman, serta harapan dari para mahasiswa disabilitas demi mewujudkan lingkungan kampus yang semakin ramah dan inklusif.

Beberapa poin utama pengalaman dan aspirasi yang disampaikan meliputi:

  • Penerimaan Diri, Kemandirian, dan Rasa Percaya Diri

Para mahasiswa menekankan pentingnya menerima kondisi diri tanpa rasa malu dan tetap berjuang meraih cita-cita. Meli dan Dwi Redi sepakat bahwa memiliki keterbatasan bukanlah penghalang untuk tetap bahagia dan percaya diri. Vivi menambahkan bahwa menjadi mahasiswa disabilitas memberinya pengalaman luar biasa untuk belajar mandiri dalam mengerjakan tugas perkuliahan.

  • Kesempatan Setara Tanpa Sikap "Dikasihani"

Haris, Reza (yang baru teridentifikasi sebagai mahasiswa disabilitas di semester 7), dan Vivi menegaskan bahwa setiap individu berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam dunia pendidikan. Mereka berharap lingkungan kampus terus memberikan dukungan setara tanpa membuat mahasiswa disabilitas merasa dikasihani. Meli juga mengingatkan agar pemberian keringanan dilakukan secara bijak dan proporsional agar tidak menimbulkan kecemburuan dari mahasiswa non-disabilitas.

  • Peningkatan Aksesibilitas, Sarana, dan Administrasi

Mirzam dan Meli menyoroti pentingnya pembenahan fasilitas fisik serta layanan kampus. Mereka berharap adanya peningkatan sarana prasarana seperti penyediaan guiding block, kelancaran administrasi perkuliahan (termasuk KKL konversi), hingga dukungan akses transportasi untuk menunjang mobilitas belajar harian.

  • Semangat Perkuliahan dan Lulus Tepat Waktu

Dwi Redi dan Heri mengajak seluruh rekan mahasiswa untuk menyikapi setiap tantangan dengan optimistis. Bagi mereka, apa pun kondisi yang dihadapi, semangat belajar harus tetap menyala demi menyelesaikan studi tepat waktu dan menggapai cita-cita di masa depan.

Melalui kegiatan ini, LP2M IAIN Pontianak berharap semangat inklusivitas semakin menguat di lingkungan kampus, sehingga seluruh mahasiswa dapat tumbuh, berkembang, dan mengukir prestasi bersama tanpa batas perbedaan.





Mahasiswa Pejuang Inklusi IAIN Pontianak Raih Prestasi pada Lomba MTQ dan Dakwah Tingkat Nasional

Mahasiswa Pejuang Inklusi IAIN Pontianak Raih Prestasi pada Lomba MTQ dan Dakwah Tingkat Nasional

 

Pontianak – Kabar membanggakan datang dari mahasiswa pejuang inklusi IAIN Pontianak. Tiga mahasiswa berhasil menorehkan prestasi gemilang pada ajang Lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) dan Dakwah Tingkat Nasional yang diselenggarakan di Pondok Pesantren An Nawawi, Jawa Tengah, pada 19 Juni 2026.

Dalam kompetisi yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, mahasiswa IAIN Pontianak berhasil meraih beberapa penghargaan, yaitu:

  • Siti Farhatun Nufus meraih Juara 1 Tilawah Putri.
  • Andi Safira Atira meraih Juara 2 Tahfiz Putri.
  • Nanda Meilisa Fitri meraih Juara 2 Dakwah Putri.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa penyandang disabilitas memiliki potensi yang luar biasa untuk bersaing dan berprestasi di tingkat nasional. Keberhasilan tersebut juga mencerminkan komitmen IAIN Pontianak dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, ramah disabilitas, serta memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.

Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi IAIN Pontianak menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas capaian yang diraih para mahasiswa tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi mahasiswa yang bersangkutan, tetapi juga bagi seluruh sivitas akademika IAIN Pontianak.

"Prestasi ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki," ujarnya.

Selain membawa nama baik kampus, pencapaian ini juga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas tentang pentingnya memberikan ruang dan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas untuk berkarya dan berkontribusi.

Dengan raihan prestasi tersebut, IAIN Pontianak berharap dapat terus mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa pejuang inklusi melalui berbagai program pembinaan, pendampingan, dan penguatan kompetensi sehingga mampu berkiprah di berbagai ajang akademik maupun nonakademik di tingkat nasional maupun internasional.

Selamat dan sukses kepada para juara. Semoga prestasi ini menjadi langkah awal menuju capaian yang lebih tinggi dan membawa keberkahan bagi semua.


Melalui PKDP 2026, Dosen FTIK IAIN Pontianak Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme

Melalui PKDP 2026, Dosen FTIK IAIN Pontianak Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme

 

Empat Dosen FTIK IAIN Pontianak mengikuti Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh UIN Walisongo Semarang pada 8–23 Juni 2026. Dosen yang dimaksud antara lain, Didi Darmadi, M.Lett., M.Pd., Septian Utut Sugiatno, M.Pd., Resvan, M.Pd., dan Maria Ulfa, M.Pd. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas dan profesionalisme dosen dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pelatihan dilaksanakan secara online atau pembelajaran daring.

Program ini secara resmi dibuka oleh Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., dan diikuti oleh 144 dosen pemula dari berbagai perguruan tinggi keagamaan yang berada di wilayah Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Melalui program ini, peserta memeroleh berbagai materi dan pengalaman yang mendukung pengembangan kompetensi sebagai dosen, baik dalam bidang pembelajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. UIN Walisongo Semarang pada tahun ini menjadi salah satu perguruan tinggi yang ditunjuk oleh Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai penyelenggara PKDP dengan peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi keagamaan di wilayah Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Pelaksanaan Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) Tahun 2026 di UIN Walisongo Semarang dilakukan melalui tiga tahapan utama. Kegiatan diawali dengan In Service Course 1 (ISC-1), yaitu sesi pembelajaran intensif yang berlangsung selama tiga hari dan berisi berbagai materi penguatan kompetensi dasar dosen. Setelah itu, peserta mengikuti On the Job Course (OJC) selama enam hari untuk mengimplementasikan hasil pembelajaran yang telah diperoleh ke dalam praktik pembelajaran dan aktivitas akademik di perguruan tinggi masing-masing. Tahap terakhir adalah In Service Course 2 (ISC-2) yang difokuskan pada evaluasi, refleksi, serta ujian akhir sebagai bagian dari penilaian capaian kompetensi peserta.

Salah satu dosen FTIK IAIN Pontianak sekaligus peserta PKDP, Septian Utut Sugiatno, M.Pd. mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menjadi kesempatan yang berharga untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai dosen pemula. Ia menilai materi yang diberikan sangat komprehensif karena mencakup berbagai aspek penting, mulai dari pengembangan karier akademik, peningkatan kualitas pembelajaran, hingga penguatan wawasan keilmuan dan moderasi beragama. Melalui program ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga mendapatkan bekal praktis yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Menurutnya, pengalaman belajar dan berdiskusi bersama peserta dari berbagai perguruan tinggi turut memperluas perspektif serta memperkuat motivasi untuk terus mengembangkan kompetensi sebagai pendidik profesional.

Sementara itu, Didi Darmadi, M.Lett., M.Pd. yang turut menjadi peserta PKDP menilai  berharap agar seluruh peserta PKDP diberikan kemudahan dalam mengikuti setiap tahapan kegiatan hingga selesai. Ia berharap semangat belajar dan kebersamaan yang terbangun selama program dapat terus terjaga sehingga seluruh peserta mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan baik dan dinyatakan lulus. Baginya, PKDP bukan hanya menjadi syarat pengembangan karier dosen, tetapi juga menjadi wadah untuk meningkatkan kompetensi, memperluas jejaring akademik, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang semakin dinamis.




IAIN Pontianak Optimis Membangun Kampus Inklusif melalui Pendampingan Relawan PLD bagi Mahasiswa Tuli

IAIN Pontianak Optimis Membangun Kampus Inklusif melalui Pendampingan Relawan PLD bagi Mahasiswa Tuli

 

Pontianak –10 Juni 2026. Hari ke dua kegiatan Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas difokuskan pada pendampingan mahasiswa tuli (tunarungu) sebagai bagian dari upaya mewujudkan kampus yang inklusif.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) ini menghadirkan Fahri sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejumlah hambatan yang masih dihadapi mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan perguruan tinggi.

Menurut Fahri, terdapat tiga hambatan utama yang perlu menjadi perhatian. Pertama, hambatan aksesibilitas fisik, seperti gedung kampus yang belum sepenuhnya dilengkapi jalur landai (ramp), lift, maupun fasilitas toilet yang ramah bagi pengguna kursi roda. Kedua, keterbatasan teknologi bantu dan materi pembelajaran, di mana mahasiswa disabilitas netra maupun tuli sering mengalami kesulitan mengakses materi akademik akibat minimnya buku braille, perangkat lunak pembaca layar, serta penerjemah bahasa isyarat di kelas. Ketiga, hambatan dalam proses akademik, yaitu kesulitan memahami materi perkuliahan karena metode pembelajaran yang belum sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa disabilitas.

Berbeda dengan hari pertama yang lebih menitikberatkan pada penyampaian materi, kegiatan hari kedua menggabungkan sesi materi dan praktik simulasi. Para peserta diajak untuk memahami berbagai situasi yang mungkin dihadapi mahasiswa disabilitas serta mencari solusi yang tepat dalam memberikan pendampingan.

Melalui simulasi tersebut, para relawan PLD dibekali keterampilan untuk mendukung proses pembelajaran mahasiswa inklusi sehingga mereka dapat mengikuti kegiatan akademik secara optimal. Meskipun memiliki fokus yang berbeda, rangkaian kegiatan pada hari pertama dan kedua merupakan satu kesatuan program yang bertujuan meningkatkan kapasitas relawan dalam mendampingi mahasiswa disabilitas.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen IAIN Pontianak dalam membangun lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif, ramah disabilitas, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk berkembang dan meraih prestasi.





LP2M IAIN Pontianak Perkuat Layanan Inklusif Kampus Melalui Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas

LP2M IAIN Pontianak Perkuat Layanan Inklusif Kampus Melalui Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas

IAIN Pontianak – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak melalui Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi menyelenggarakan kegiatan Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat layanan inklusif di lingkungan kampus Institut Agama Islam Negeri Pontianak.

Ketua Panitia Pelaksana, Nopita Sari, M.Pd, menjelaskan bahwa short course relawan ini dilaksanakan selama tiga hari dengan melibatkan enam narasumber. Pesertanya berjumlah lima belas orang, terdiri dari lima tenaga kependidikan dan sepuluh mahasiswa. Pelatihan ini diadakan di Ruang VIP Gedung Abdul Rani Mahmud Alyamani IAIN Pontianak.

"Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kampus yang ramah inklusi, tidak hanya dari segi fasilitas, tetapi yang jauh lebih penting adalah terciptanya keramahan dan semangat gotong royong antara mahasiswa dan pegawai dalam melayani," ujar Nopita Sari.

Mahasiswa semester enam yang mengikuti KKL (Kuliah Kerja Lapangan) Reguler dan Konversi dapat memanfaatkan kegiatan kerelawanan ini sebagai salah satu bentuk pengabdian. Nilai pengabdian yang dilakukan para relawan nantinya bisa dikonversi menjadi nilai KKL.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pejabat kampus, termasuk para Dekan dan Kepala Bagian dari masing-masing Fakultas, sekaligus menjadi ajang sosialisasi menyeluruh tentang pentingnya inklusi. Sekretaris LP2M IAIN Pontianak, Andry Fitriyanto, M.Ud, dalam sambutannya menyatakan bahwa realitas pendampingan disabilitas merupakan tuntutan yang tak terhindarkan, baik dari segi akreditasi program studi dan lembaga maupun standar ISO (International Organization for Standardization).

 "Jumlah mahasiswa disabilitas menjadi salah satu indikator penilaian yang sangat penting," tegasnya. IAIN Pontianak menunjukkan komitmennya sebagai kampus ramah disabilitas dengan membentuk Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi di bawah LP2M, serta menerapkan program Nol UKT bagi mahasiswa disabilitas. Andry Fitriyanto menegaskan, "Pendidikan adalah hak asasi bagi seluruh warga negara Indonesia, termasuk anak-anak disabilitas. Walaupun masih banyak keterbatasan, kami tetap berupaya semaksimal mungkin."

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak individu disabilitas yang belum mendapatkan akses pendidikan secara maksimal karena berbagai keterbatasan. Untuk mengatasi hal ini, IAIN Pontianak telah menyusun pedoman pendampingan disabilitas dan semakin diperkuat dengan adanya Short Course Pendampingan Mahasiswa Disabilitas ini.

"Terkait sarana dan prasarana adalah hal terpenting, namun jika belum tersedia secara lengkap, yang lebih penting lagi adalah kita membangun ekosistemnya," imbuh Andry. Ia berharap output dari kegiatan ini dapat menjadikan mahasiswa dan tenaga kependidikan sebagai pelopor terwujudnya Kampus IAIN Pontianak yang benar-benar inklusif.



Struktur Organisasi LP2M

Formulir Kontak