PONTIANAK – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak kembali menggelar Gerakan Dedah Buku (GEDEBUK) #EpisodeSpesial pada Rabu (3/6/2026). Berbeda dari biasanya, episode kali ini lebih spesial. Mulai dari pemilihan lokasi yang bertempat di Ruang Rapat Senat, kemudian dua pemateri yang dihadirkan memiliki latar belakang sangat kontras namun saling melengkapi. Agenda krusial ini dipandu langsung oleh Andry Fitriyanto, selaku Sekretaris LP2M IAIN Pontianak.
Sebuah karya monumental berjudul "DIASPORA MADURA (Resiliensi Strategi dan Transformasi Pasca Konflik Etnik)" karya Abdur Rozaki, sebuah buku yang lahir dari hasil penelitian mendalam selama empat tahun.
Agenda ini menyedot perhatian besar dengan dihadiri oleh 60 peserta yang mendaftar, terdiri dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), mahasiswa, hingga masyarakat umum. Diskusi ini dinilai sangat krusial, terutama sebagai jembatan informasi bagi generasi milenial dan Gen Z yang tidak mengalami langsung peristiwa kelam tersebut secara empiris.
Hadir sebagai panelis, Subro, seorang aktivis sekaligus budayawan etnik Madura di Kalimantan Barat, membagikan perspektifnya yang mendalam sebagai salah satu penyintas konflik. Ia mengurai kembali lini masa konflik komunal di Kalbar, mulai dari konflik 1997 di Kabupaten Bengkayang, konflik 1999 di Kabupaten Sambas, kerusuhan Sampit pada 2001, hingga ketegangan pada tahun 2009 yang melahirkan Seruan Pontianak.
"Buku ini membahas masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua tentang bagaimana menyikapi masa depan agar hal serupa tidak terulang," tegas Subro.
Senada dengan Subro, Eka Henry Ar (Akademisi IAIN Pontianak) yang bertindak sebagai pembedah, memaparkan bahwa konflik sosial sebesar itu tidak berdiri sendiri melainkan berlapis (berlayer-layer). Menurutnya, untuk memahami konflik Kalbar tidak bisa hanya melihat tahun 1997 atau 1999 saja, melainkan harus membaca sejarah kekerasan yang panjang sejak masa kolonialisme, Orde Lama, hingga Orde Baru.
Eka menjelaskan tiga faktor utama pemicu konflik yang diulas dalam buku:
- Benturan atau perbedaan kultural.
- Kelemahan institusional.
- Persaingan ekonomi.
"Suku-suku sebenarnya adalah korban. Hal terpenting dari buku ini adalah melihat bagaimana reaksi atau respon pasca-konflik. Melalui resiliensi, strategi, dan transformasi, terjadilah mobilitas sehingga membuat etnik Madura kini mampu setara di berbagai sektor dan mengubah stereotip lama seiring berjalannya waktu," jelas Eka Henry.
Suasana acara berlangsung sangat dinamis. Peserta tampak antusias dan menyimak dengan saksama setiap pemaparan. Sesi diskusi pun menghangat ketika muncul pertanyaan kritis dari peserta mengenai kenyataan di lapangan, seperti masih adanya resistensi atau penolakan terselubung terkait ruang tinggal bagi etnik Madura di wilayah tertentu seperti Sambas yang menunjukkan pekerjaan rumah toleransi belum sepenuhnya usai.
Kegiatan ini menuai respons positif dari para mahasiswa yang hadir. Mereka menilai bedah buku seperti GEDEBUK ini memberikan sudut pandang baru yang lebih jernih dan objektif. Reza Kurniawan, mahasiswa IAIN Pontianak, mengungkapkan rasa bangganya bisa hadir dalam forum ilmiah ini.
"Kegiatan ini sangat positif untuk mahasiswa. Kita bisa melihat, memahami, dan mengambil ibroh (pelajaran) dari pesan yang disampaikan. Lewat pemateri yang luar biasa, saya mendapatkan sudut pandang baru yang lebih luas, sekaligus mengevaluasi persepsi yang mungkin selama ini salah saya pahami," ujarnya.
Apresiasi serupa juga datang dari Dedek, mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) yang sengaja hadir. Meski belum membaca bukunya secara utuh, ia merasa diskusi ini memberikan gambaran yang sangat komprehensif.
"Saya senang sekali hari ini bisa melihat konteks konflik etnis Kalbar 1999 secara menyeluruh. Menariknya, forum ini berhasil menggeser sudut pandang bahwa konflik terjadi bukan sekadar karena perbedaan kultur, melainkan akibat kelalaian sistem dan kegagalan struktural. Buku ini diharapkan bisa membuka ruang kritis dan ruang diskusi terhadap hak-hak korban serta penyintas," pungkas Dedek.
Melalui episode spesial GEDEBUK ini, LP2M IAIN Pontianak berharap edukasi sejarah berbasis riset ini dapat terus dirawat, demi membangun masa depan Kalimantan Barat yang lebih damai, inklusif, dan harmonis.
