GEDEBUK #EPISODE 6 : MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG REFLEKSI LEWAT PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA - LP2M IAIN PONTIANAK

GEDEBUK #EPISODE 6 : MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG REFLEKSI LEWAT PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

GEDEBUK #EPISODE 6 : MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG REFLEKSI LEWAT PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA


Pontianak, 21 Mei 2026 – Dalam rangka merawat nalar kritis dan memperkuat akar pendidikan bangsa, LP2M IAIN PONTIANAK kembali GEDEBUK (GErakan DEdah BUKu) Episode 6 yang bertajuk "Pemikiran Ki Hadjar Dewantara ". Acara yang berlangsung di Rumah Jurnal LP2M IAIN Pontianak yang dipenuhi aroma khas Roti Kebeng dan Kopi Pancong, kegiatan dihadiri oleh Dewan Pendidikan Kalbar, Sekretaris LP2M, Dosen, Tendik dan Mahasiswa.

Gerakan Dedah Buku kali ini secara khusus mengupas tuntas mahakarya dan kumpulan esai yang merangkum buah pikir Sang Bapak Pendidikan Nasional. Buku ini dinilai sangat relevan untuk dihadirkan kembali di tengah derasnya arus digitalisasi dan komersialisasi pendidikan modern saat ini.

Diskusi berjalan hangat yang dipandu oleh Jazilatul Adawiyah, M. Pd berlangsung dengan menghadirkan pemateri yang luar bisa yang merupakan mahasiswa S2 IAIN Pontianak. Dalam sesi bedah buku, narasumber menegaskan bahwa konsep ikonik Ki Hadjar Dewantara Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani selama ini sering kali hanya dihafal sebagai slogan tanpa diresapi maknanya.



Resta Tutuffia Sari, S. Pd., selaku pemateri, menekankan bahwa " Ki Hadjar Dewantara tidak pernah memandang pendidikan sebagai pabrik pencetak pekerja. Melalui buku ini, kita diingatkan bahwa esensi pendidikan adalah 'menuntun' segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat," ujarnya.

Ditengah-tengah diskusi Bapak Dr. Syamsul Kurniawan, M. S. I selaku K Wadir Pasca & Dewan Pendidikan Kalbar menambahkan bahwa dalam buku ini “Sekolah sebagai ruang hidup bersama untuk membentuk manusia merdeka religius-humanis, dan mampu mengelola perbedaan secara demai melalui keteladanan, kultur sosial, dialog dan pengalaman nyata, dan dianggap perlu dalam dunia pendidikan menerapkan 5 pilar pedekatan dalam kontek pemikiran Ki Hadjar Dewantara diantaranya Humanisasi, Kodesistensi, Keteladanan Sosial, Kebudayaan dan Kemerdekaan Bertanggung Jawab,” ungkapnya.

Peserta yang hadir tampak sangat antusias, terbukti dari beberapa pertanyaan dan dialektika yang terjadi selama sesi tanya jawab, salah satunya ada ibu Ida yang mempertanyaakan “apakah pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini juga bisa di terapkan di sekolah terhadap guru-guru sebagai bentuk dari sarana cara mendidik siswa di ruang lingkup sekolah?” dan begitu pula pertanyaan dari ibu Ratna Devi yang mempertanyakan” apakah ada strategi yang bisa digunakan pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini bagi pembebasan berfikir dan menyampaikan argumen dalam lingkungan sekolah?”.

Pertanyaan ini dijawab oleh pemateri dengan cermat bahwa bisa saja pemikiran ini di terapkan pada sekolah-sekolah hanya saja masih diupayakan oleh penulis untuk pengaplikasiannya. Begitu pula ditambah oleh Dewan Pendidikan Kalbar menambahkan bahwa stretegi praktis mengajar bagi guru bisa berupa Guru sebagai Kurator Atmosfer Moral, Pedagogi Pertemuan, Hidden Curriculum Moderari, Metode Tafsir Sosial, Pendidikan Narasi, Pendidikan “Rasa”, selain itu strategi yang bisa digunakan dengan menggunakan strategi oprasional berupa ASIH (Afirmasi, Simulasi, Interaksi dan Habituasi) menjadi Gerakan Dedah Buku ini diharapkan tidak berhenti sebagai wacana di dalam ruangan saja.

Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama dan pembagian buku gratis kepada beberapa peserta yang aktif memberikan tanggapan kritis sepanjang diskusi berlangsung.

Disqus Comment

Struktur Organisasi LP2M

Formulir Kontak