LP2M IAIN PONTIANAK: LP2M IAIN Pontianak
Perkuat Sinergi Tri Dharma, LP2M IAIN Pontianak dan Pemkab Mempawah Bahas MoU dan PKS Kerja Sama

Perkuat Sinergi Tri Dharma, LP2M IAIN Pontianak dan Pemkab Mempawah Bahas MoU dan PKS Kerja Sama

 

MEMPAWAH,_Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak menggelar pertemuan strategis bersama Pemerintah Kabupaten Mempawah di Ruang Junjung Titah, Kantor Bupati Mempawah. Pertemuan tersebut dilaksanakan guna membahas substansi Kesepakatan Bersama (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai langkah penguatan kemitraan strategis dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan pembangunan daerah.

Dalam pertemuan strategis tersebut dihadiri langsung oleh Ketua dan Sekretaris LP2M IAIN Pontianak. Turut mendampingi, Kepala Bagian Umum dan Layanan Akademik IAIN Pontianak, Muhammad Syahrun. Sementara itu, pihak Pemerintah Kabupaten Mempawah diwakili oleh Staf Ahli Bupati, didampingi oleh tim dari Bidang Hukum, Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Dinas Pendidikan, serta Dinas Sosial.

Kedua belah pihak secara mendalam membahas substansi Kesepakatan Bersama, mencakup penetapan ruang lingkup kerja sama, perumusan bentuk kegiatan, hingga mekanisme pelaksanaan program yang dapat dikembangkan secara bersama. Pembahasan detail ini dilakukan untuk memastikan bahwa kerja sama yang dibangun mampu memberikan manfaat nyata dan saling menguntungkan bagi kedua instansi serta masyarakat Kabupaten Mempawah.

Salah satu fokus utama dalam pertemuan ini adalah pembentukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) khusus terkait pelaksanaan program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa IAIN Pontianak di Kabupaten Mempawah. Program KKL dirancang sebagai wadah utama bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar secara langsung di tengah masyarakat sekaligus mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh di bangku kuliah. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat berinteraksi aktif, memahami potensi dan persoalan lokal, serta memberikan kontribusi nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Melalui kemitraan ini, kedua pihak menyepakati pola kerja sama yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan jangka pendek, melainkan dapat dikembangkan secara berkelanjutan di berbagai bidang strategis. Kolaborasi sinergis antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat ini diharapkan mampu mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang lebih kontekstual, berdampak luas, serta memperluas kontribusi IAIN Pontianak terhadap pembangunan daerah di Kabupaten Mempawah.

LP2M IAIN Pontianak Gelar Meet and Greet Mahasiswa Pejuang Inklusi: "Bersama dalam Keberagaman, Tumbuh dalam Inklusi"

LP2M IAIN Pontianak Gelar Meet and Greet Mahasiswa Pejuang Inklusi: "Bersama dalam Keberagaman, Tumbuh dalam Inklusi"


 LP2M IAIN PONTIANAK – Koordinator Pusat Pelayanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak menggelar kegiatan Meet and Greet bersama Mahasiswa Pejuang Inklusi pada Kamis, 13 Agustus 2026. Acara yang mengusung tema "Bersama dalam Keberagaman, Tumbuh dalam Inklusi" ini berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Ruang Rapat LP2M IAIN Pontianak mulai pukul 08.00 WIB.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua LP2M, Sekretaris LP2M, serta Koordinator Pusat Pelayanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi. Sebanyak 15 mahasiswa disabilitas turut hadir dalam acara ini, didampingi oleh 2 orang pendamping yang akrab disapa sebagai Sahabat Pejuang Inklusi.

Dalam sambutannya, Ketua LP2M menyampaikan dukungan penuh (full support) terhadap seluruh aktivitas dan pengembangan potensi mahasiswa disabilitas di kampus IAIN Pontianak. Beliau menegaskan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan karier dan masa depan.

"Jangan pernah ragu dan minder. Pastikan kebutuhan serta perjuangan kalian sejajar dengan mahasiswa lainnya. Kesuksesan berkarir terbuka lebar untuk siapa saja. Tetap semangat agar bisa lulus tepat waktu dengan capaian nilai akademik yang memuaskan," ujar Ketua LP2M memberi motivasi.

Sesi berlanjut ke acara inti yang berlangsung interaktif dan akrab. Para mahasiswa saling memperkenalkan diri, mulai dari nama, fakultas, program studi, hingga hobi masing-masing. Untuk mempererat rasa kebersamaan dan melatih daya ingat, korpus memberikan tantangan unik di mana setiap peserta diwajibkan mengingat minimal empat nama rekan nya.

 Suara dan Harapan Mahasiswa Pejuang Inklusi

Setelah seluruh rangkaian acara usai, sesi dilanjutkan dengan penyampaian kesan, pengalaman, serta harapan dari para mahasiswa disabilitas demi mewujudkan lingkungan kampus yang semakin ramah dan inklusif.

Beberapa poin utama pengalaman dan aspirasi yang disampaikan meliputi:

  • Penerimaan Diri, Kemandirian, dan Rasa Percaya Diri

Para mahasiswa menekankan pentingnya menerima kondisi diri tanpa rasa malu dan tetap berjuang meraih cita-cita. Meli dan Dwi Redi sepakat bahwa memiliki keterbatasan bukanlah penghalang untuk tetap bahagia dan percaya diri. Vivi menambahkan bahwa menjadi mahasiswa disabilitas memberinya pengalaman luar biasa untuk belajar mandiri dalam mengerjakan tugas perkuliahan.

  • Kesempatan Setara Tanpa Sikap "Dikasihani"

Haris, Reza (yang baru teridentifikasi sebagai mahasiswa disabilitas di semester 7), dan Vivi menegaskan bahwa setiap individu berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam dunia pendidikan. Mereka berharap lingkungan kampus terus memberikan dukungan setara tanpa membuat mahasiswa disabilitas merasa dikasihani. Meli juga mengingatkan agar pemberian keringanan dilakukan secara bijak dan proporsional agar tidak menimbulkan kecemburuan dari mahasiswa non-disabilitas.

  • Peningkatan Aksesibilitas, Sarana, dan Administrasi

Mirzam dan Meli menyoroti pentingnya pembenahan fasilitas fisik serta layanan kampus. Mereka berharap adanya peningkatan sarana prasarana seperti penyediaan guiding block, kelancaran administrasi perkuliahan (termasuk KKL konversi), hingga dukungan akses transportasi untuk menunjang mobilitas belajar harian.

  • Semangat Perkuliahan dan Lulus Tepat Waktu

Dwi Redi dan Heri mengajak seluruh rekan mahasiswa untuk menyikapi setiap tantangan dengan optimistis. Bagi mereka, apa pun kondisi yang dihadapi, semangat belajar harus tetap menyala demi menyelesaikan studi tepat waktu dan menggapai cita-cita di masa depan.

Melalui kegiatan ini, LP2M IAIN Pontianak berharap semangat inklusivitas semakin menguat di lingkungan kampus, sehingga seluruh mahasiswa dapat tumbuh, berkembang, dan mengukir prestasi bersama tanpa batas perbedaan.





Mahasiswa Pejuang Inklusi IAIN Pontianak Raih Prestasi pada Lomba MTQ dan Dakwah Tingkat Nasional

Mahasiswa Pejuang Inklusi IAIN Pontianak Raih Prestasi pada Lomba MTQ dan Dakwah Tingkat Nasional

 

Pontianak – Kabar membanggakan datang dari mahasiswa pejuang inklusi IAIN Pontianak. Tiga mahasiswa berhasil menorehkan prestasi gemilang pada ajang Lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) dan Dakwah Tingkat Nasional yang diselenggarakan di Pondok Pesantren An Nawawi, Jawa Tengah, pada 19 Juni 2026.

Dalam kompetisi yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, mahasiswa IAIN Pontianak berhasil meraih beberapa penghargaan, yaitu:

  • Siti Farhatun Nufus meraih Juara 1 Tilawah Putri.
  • Andi Safira Atira meraih Juara 2 Tahfiz Putri.
  • Nanda Meilisa Fitri meraih Juara 2 Dakwah Putri.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa penyandang disabilitas memiliki potensi yang luar biasa untuk bersaing dan berprestasi di tingkat nasional. Keberhasilan tersebut juga mencerminkan komitmen IAIN Pontianak dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, ramah disabilitas, serta memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.

Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi IAIN Pontianak menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas capaian yang diraih para mahasiswa tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi mahasiswa yang bersangkutan, tetapi juga bagi seluruh sivitas akademika IAIN Pontianak.

"Prestasi ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki," ujarnya.

Selain membawa nama baik kampus, pencapaian ini juga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas tentang pentingnya memberikan ruang dan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas untuk berkarya dan berkontribusi.

Dengan raihan prestasi tersebut, IAIN Pontianak berharap dapat terus mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa pejuang inklusi melalui berbagai program pembinaan, pendampingan, dan penguatan kompetensi sehingga mampu berkiprah di berbagai ajang akademik maupun nonakademik di tingkat nasional maupun internasional.

Selamat dan sukses kepada para juara. Semoga prestasi ini menjadi langkah awal menuju capaian yang lebih tinggi dan membawa keberkahan bagi semua.


Melalui PKDP 2026, Dosen FTIK IAIN Pontianak Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme

Melalui PKDP 2026, Dosen FTIK IAIN Pontianak Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme

 

Empat Dosen FTIK IAIN Pontianak mengikuti Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh UIN Walisongo Semarang pada 8–23 Juni 2026. Dosen yang dimaksud antara lain, Didi Darmadi, M.Lett., M.Pd., Septian Utut Sugiatno, M.Pd., Resvan, M.Pd., dan Maria Ulfa, M.Pd. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas dan profesionalisme dosen dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pelatihan dilaksanakan secara online atau pembelajaran daring.

Program ini secara resmi dibuka oleh Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., dan diikuti oleh 144 dosen pemula dari berbagai perguruan tinggi keagamaan yang berada di wilayah Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Melalui program ini, peserta memeroleh berbagai materi dan pengalaman yang mendukung pengembangan kompetensi sebagai dosen, baik dalam bidang pembelajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. UIN Walisongo Semarang pada tahun ini menjadi salah satu perguruan tinggi yang ditunjuk oleh Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai penyelenggara PKDP dengan peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi keagamaan di wilayah Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Pelaksanaan Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) Tahun 2026 di UIN Walisongo Semarang dilakukan melalui tiga tahapan utama. Kegiatan diawali dengan In Service Course 1 (ISC-1), yaitu sesi pembelajaran intensif yang berlangsung selama tiga hari dan berisi berbagai materi penguatan kompetensi dasar dosen. Setelah itu, peserta mengikuti On the Job Course (OJC) selama enam hari untuk mengimplementasikan hasil pembelajaran yang telah diperoleh ke dalam praktik pembelajaran dan aktivitas akademik di perguruan tinggi masing-masing. Tahap terakhir adalah In Service Course 2 (ISC-2) yang difokuskan pada evaluasi, refleksi, serta ujian akhir sebagai bagian dari penilaian capaian kompetensi peserta.

Salah satu dosen FTIK IAIN Pontianak sekaligus peserta PKDP, Septian Utut Sugiatno, M.Pd. mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menjadi kesempatan yang berharga untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai dosen pemula. Ia menilai materi yang diberikan sangat komprehensif karena mencakup berbagai aspek penting, mulai dari pengembangan karier akademik, peningkatan kualitas pembelajaran, hingga penguatan wawasan keilmuan dan moderasi beragama. Melalui program ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga mendapatkan bekal praktis yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Menurutnya, pengalaman belajar dan berdiskusi bersama peserta dari berbagai perguruan tinggi turut memperluas perspektif serta memperkuat motivasi untuk terus mengembangkan kompetensi sebagai pendidik profesional.

Sementara itu, Didi Darmadi, M.Lett., M.Pd. yang turut menjadi peserta PKDP menilai  berharap agar seluruh peserta PKDP diberikan kemudahan dalam mengikuti setiap tahapan kegiatan hingga selesai. Ia berharap semangat belajar dan kebersamaan yang terbangun selama program dapat terus terjaga sehingga seluruh peserta mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan baik dan dinyatakan lulus. Baginya, PKDP bukan hanya menjadi syarat pengembangan karier dosen, tetapi juga menjadi wadah untuk meningkatkan kompetensi, memperluas jejaring akademik, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang semakin dinamis.




IAIN Pontianak Optimis Membangun Kampus Inklusif melalui Pendampingan Relawan PLD bagi Mahasiswa Tuli

IAIN Pontianak Optimis Membangun Kampus Inklusif melalui Pendampingan Relawan PLD bagi Mahasiswa Tuli

 

Pontianak –10 Juni 2026. Hari ke dua kegiatan Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas difokuskan pada pendampingan mahasiswa tuli (tunarungu) sebagai bagian dari upaya mewujudkan kampus yang inklusif.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) ini menghadirkan Fahri sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejumlah hambatan yang masih dihadapi mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan perguruan tinggi.

Menurut Fahri, terdapat tiga hambatan utama yang perlu menjadi perhatian. Pertama, hambatan aksesibilitas fisik, seperti gedung kampus yang belum sepenuhnya dilengkapi jalur landai (ramp), lift, maupun fasilitas toilet yang ramah bagi pengguna kursi roda. Kedua, keterbatasan teknologi bantu dan materi pembelajaran, di mana mahasiswa disabilitas netra maupun tuli sering mengalami kesulitan mengakses materi akademik akibat minimnya buku braille, perangkat lunak pembaca layar, serta penerjemah bahasa isyarat di kelas. Ketiga, hambatan dalam proses akademik, yaitu kesulitan memahami materi perkuliahan karena metode pembelajaran yang belum sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa disabilitas.

Berbeda dengan hari pertama yang lebih menitikberatkan pada penyampaian materi, kegiatan hari kedua menggabungkan sesi materi dan praktik simulasi. Para peserta diajak untuk memahami berbagai situasi yang mungkin dihadapi mahasiswa disabilitas serta mencari solusi yang tepat dalam memberikan pendampingan.

Melalui simulasi tersebut, para relawan PLD dibekali keterampilan untuk mendukung proses pembelajaran mahasiswa inklusi sehingga mereka dapat mengikuti kegiatan akademik secara optimal. Meskipun memiliki fokus yang berbeda, rangkaian kegiatan pada hari pertama dan kedua merupakan satu kesatuan program yang bertujuan meningkatkan kapasitas relawan dalam mendampingi mahasiswa disabilitas.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen IAIN Pontianak dalam membangun lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif, ramah disabilitas, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk berkembang dan meraih prestasi.





LP2M IAIN Pontianak Perkuat Layanan Inklusif Kampus Melalui Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas

LP2M IAIN Pontianak Perkuat Layanan Inklusif Kampus Melalui Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas

IAIN Pontianak – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak melalui Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi menyelenggarakan kegiatan Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat layanan inklusif di lingkungan kampus Institut Agama Islam Negeri Pontianak.

Ketua Panitia Pelaksana, Nopita Sari, M.Pd, menjelaskan bahwa short course relawan ini dilaksanakan selama tiga hari dengan melibatkan enam narasumber. Pesertanya berjumlah lima belas orang, terdiri dari lima tenaga kependidikan dan sepuluh mahasiswa. Pelatihan ini diadakan di Ruang VIP Gedung Abdul Rani Mahmud Alyamani IAIN Pontianak.

"Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kampus yang ramah inklusi, tidak hanya dari segi fasilitas, tetapi yang jauh lebih penting adalah terciptanya keramahan dan semangat gotong royong antara mahasiswa dan pegawai dalam melayani," ujar Nopita Sari.

Mahasiswa semester enam yang mengikuti KKL (Kuliah Kerja Lapangan) Reguler dan Konversi dapat memanfaatkan kegiatan kerelawanan ini sebagai salah satu bentuk pengabdian. Nilai pengabdian yang dilakukan para relawan nantinya bisa dikonversi menjadi nilai KKL.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pejabat kampus, termasuk para Dekan dan Kepala Bagian dari masing-masing Fakultas, sekaligus menjadi ajang sosialisasi menyeluruh tentang pentingnya inklusi. Sekretaris LP2M IAIN Pontianak, Andry Fitriyanto, M.Ud, dalam sambutannya menyatakan bahwa realitas pendampingan disabilitas merupakan tuntutan yang tak terhindarkan, baik dari segi akreditasi program studi dan lembaga maupun standar ISO (International Organization for Standardization).

 "Jumlah mahasiswa disabilitas menjadi salah satu indikator penilaian yang sangat penting," tegasnya. IAIN Pontianak menunjukkan komitmennya sebagai kampus ramah disabilitas dengan membentuk Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi di bawah LP2M, serta menerapkan program Nol UKT bagi mahasiswa disabilitas. Andry Fitriyanto menegaskan, "Pendidikan adalah hak asasi bagi seluruh warga negara Indonesia, termasuk anak-anak disabilitas. Walaupun masih banyak keterbatasan, kami tetap berupaya semaksimal mungkin."

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak individu disabilitas yang belum mendapatkan akses pendidikan secara maksimal karena berbagai keterbatasan. Untuk mengatasi hal ini, IAIN Pontianak telah menyusun pedoman pendampingan disabilitas dan semakin diperkuat dengan adanya Short Course Pendampingan Mahasiswa Disabilitas ini.

"Terkait sarana dan prasarana adalah hal terpenting, namun jika belum tersedia secara lengkap, yang lebih penting lagi adalah kita membangun ekosistemnya," imbuh Andry. Ia berharap output dari kegiatan ini dapat menjadikan mahasiswa dan tenaga kependidikan sebagai pelopor terwujudnya Kampus IAIN Pontianak yang benar-benar inklusif.



Edisi Spesial, GEDEBUK Kupas Diaspora Madura

Edisi Spesial, GEDEBUK Kupas Diaspora Madura

PONTIANAK – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak kembali menggelar Gerakan Dedah Buku (GEDEBUK) #EpisodeSpesial pada Rabu (3/6/2026). Berbeda dari biasanya, episode kali ini lebih spesial. Mulai dari pemilihan lokasi yang bertempat di Ruang Rapat Senat, kemudian dua pemateri yang dihadirkan memiliki latar belakang sangat kontras namun saling melengkapi. Agenda krusial ini dipandu langsung oleh Andry Fitriyanto, selaku Sekretaris LP2M IAIN Pontianak.

Sebuah karya monumental berjudul "DIASPORA MADURA (Resiliensi Strategi dan Transformasi Pasca Konflik Etnik)" karya Abdur Rozaki, sebuah buku yang lahir dari hasil penelitian mendalam selama empat tahun.

Agenda ini menyedot perhatian besar dengan dihadiri oleh 60 peserta yang mendaftar, terdiri dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), mahasiswa, hingga masyarakat umum. Diskusi ini dinilai sangat krusial, terutama sebagai jembatan informasi bagi generasi milenial dan Gen Z yang tidak mengalami langsung peristiwa kelam tersebut secara empiris.

Hadir sebagai panelis, Subro, seorang aktivis sekaligus budayawan etnik Madura di Kalimantan Barat, membagikan perspektifnya yang mendalam sebagai salah satu penyintas konflik. Ia mengurai kembali lini masa konflik komunal di Kalbar, mulai dari konflik 1997 di Kabupaten Bengkayang, konflik 1999 di Kabupaten Sambas, kerusuhan Sampit pada 2001, hingga ketegangan pada tahun 2009 yang melahirkan Seruan Pontianak.

"Buku ini membahas masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua tentang bagaimana menyikapi masa depan agar hal serupa tidak terulang," tegas Subro.
Senada dengan Subro, Eka Henry Ar (Akademisi IAIN Pontianak) yang bertindak sebagai pembedah, memaparkan bahwa konflik sosial sebesar itu tidak berdiri sendiri melainkan berlapis (berlayer-layer). Menurutnya, untuk memahami konflik Kalbar tidak bisa hanya melihat tahun 1997 atau 1999 saja, melainkan harus membaca sejarah kekerasan yang panjang sejak masa kolonialisme, Orde Lama, hingga Orde Baru.

Eka menjelaskan tiga faktor utama pemicu konflik yang diulas dalam buku:
  1. Benturan atau perbedaan kultural.
  2. Kelemahan institusional.
  3. Persaingan ekonomi.

"Suku-suku sebenarnya adalah korban. Hal terpenting dari buku ini adalah melihat bagaimana reaksi atau respon pasca-konflik. Melalui resiliensi, strategi, dan transformasi, terjadilah mobilitas sehingga membuat etnik Madura kini mampu setara di berbagai sektor dan mengubah stereotip lama seiring berjalannya waktu," jelas Eka Henry.

Suasana acara berlangsung sangat dinamis. Peserta tampak antusias dan menyimak dengan saksama setiap pemaparan. Sesi diskusi pun menghangat ketika muncul pertanyaan kritis dari peserta mengenai kenyataan di lapangan, seperti masih adanya resistensi atau penolakan terselubung terkait ruang tinggal bagi etnik Madura di wilayah tertentu seperti Sambas yang menunjukkan pekerjaan rumah toleransi belum sepenuhnya usai.

Kegiatan ini menuai respons positif dari para mahasiswa yang hadir. Mereka menilai bedah buku seperti GEDEBUK ini memberikan sudut pandang baru yang lebih jernih dan objektif. Reza Kurniawan, mahasiswa IAIN Pontianak, mengungkapkan rasa bangganya bisa hadir dalam forum ilmiah ini.

"Kegiatan ini sangat positif untuk mahasiswa. Kita bisa melihat, memahami, dan mengambil ibroh (pelajaran) dari pesan yang disampaikan. Lewat pemateri yang luar biasa, saya mendapatkan sudut pandang baru yang lebih luas, sekaligus mengevaluasi persepsi yang mungkin selama ini salah saya pahami," ujarnya.

Apresiasi serupa juga datang dari Dedek, mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) yang sengaja hadir. Meski belum membaca bukunya secara utuh, ia merasa diskusi ini memberikan gambaran yang sangat komprehensif.

"Saya senang sekali hari ini bisa melihat konteks konflik etnis Kalbar 1999 secara menyeluruh. Menariknya, forum ini berhasil menggeser sudut pandang bahwa konflik terjadi bukan sekadar karena perbedaan kultur, melainkan akibat kelalaian sistem dan kegagalan struktural. Buku ini diharapkan bisa membuka ruang kritis dan ruang diskusi terhadap hak-hak korban serta penyintas," pungkas Dedek.

Melalui episode spesial GEDEBUK ini, LP2M IAIN Pontianak berharap edukasi sejarah berbasis riset ini dapat terus dirawat, demi membangun masa depan Kalimantan Barat yang lebih damai, inklusif, dan harmonis.





 

 

Tingkatkan Keamanan Mahasiswa KKL, LP2M Upayakan Jaminan Sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan

Tingkatkan Keamanan Mahasiswa KKL, LP2M Upayakan Jaminan Sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan

 

Pontianak – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) menggelar audiensi dan sosialisasi bersama BPJS Ketenagakerjaan (BPJS TK). Pertemuan penting ini berlangsung di Ruang Rapat LP2M, sebagai langkah awal untuk memberikan jaminan perlindungan bagi ratusan mahasiswa yang akan segera melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL).

Rapat koordinasi ini dihadiri langsung oleh Ketua LP2M, Dr. Usman, M.Pd.I, Sekretaris LP2M, Andry Fitrianto, M.Ud, serta Koordinator Pusat (Korpus) Pengabdian pada Masyarakat, Dr. Budiyono, M.Pd. Sementara dari pihak BPJS Ketenagakerjaan, hadir Tri Aji Pamungkas dan Muhammad Ikram selaku narasumber.

Dalam pemaparannya, Tri Aji Pamungkas menjelaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan 5 program jaminan sosial utama, yaitu:

  • JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja)
  • JKM (Jaminan Kematian)
  • JHT (Jaminan Hari Tua)
  • JP (Jaminan Pensiun)
  • JKP (Jaminan Kehilangan Pekerjaan)

Ia menegaskan bahwa kepesertaan BPJS TK terbagi menjadi segmen formal dan informal. Menariknya, perlindungan ini tidak hanya menyasar pekerja kantoran, tetapi juga tahanan asimilasi hingga mahasiswa magang atau Kuliah Kerja Nyata (KKN/KKL) yang masuk dalam kategori pekerja temporary (informal).

"Untuk segmen informal seperti mahasiswa KKL, sistemnya sangat fleksibel. Jika sedang aktif berkegiatan maka membayar iuran, dan jika sudah selesai maka tidak perlu membayar lagi. Jadi, karena mahasiswa KKL ini turun ke lapangan selama 40 hari, mereka cukup membayar iuran untuk masa 2 bulan saja," jelas Tri Aji.

Lebih lanjut, ia memberikan kabar baik bahwa pada tahun ini terdapat program diskon iuran sebesar 50% yang berlaku hingga Desember 2026. Pihak BPJS TK pun secara terbuka mengajak institusi kampus untuk menjalin kerja sama demi keselamatan akademik ini. Tak lupa, mereka juga mengedukasi tata cara klaim yang mudah jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di lapangan.

Menanggapi tawaran kerja sama tersebut, Sekretaris LP2M, Andry Fitrianto, M.Ud., menyambut positif dan akan mengupayakan slot edukasi bagi mahasiswa setelah mendapatkan persetujuan dari pimpinan.

"Kebetulan dalam waktu dekat akan ada agenda pembekalan KKL. Kami mempersilakan bapak-bapak dari BPJS Ketenagakerjaan untuk hadir memberikan sosialisasi langsung kepada mahasiswa. Mengenai pembiayaan, sebenarnya jika masuk dalam penganggaran institusi akan sangat baik. Namun, karena anggaran tahun ini sudah disahkan tahun lalu, untuk periode ini belum bisa dicover kampus. Mudah-mudahan tahun depan bisa kita anggarkan agar tidak membebani mahasiswa," urai Andry.

Di sisi lain, Korpus Pengabdian pada Masyarakat, Dr. Budiyono, M.Pd., ikut mengatur teknis pelaksanaan sosialisasi agar berjalan efektif bagi 1.055 mahasiswa yang akan diterjunkan ke Kabupaten Mempawah tersebut.

"Rencananya sosialisasi akan dilaksanakan seminggu atau H-3 sebelum penerjunan lapangan. Namun, jika dirasa waktunya terlalu mepet, kita bisa kondisikan alternatif lain menggunakan Zoom Meeting. Intinya, kami menyambut baik agenda ini karena manfaat perlindungannya sangat besar bagi mahasiswa," kata Dr. Budiyono.

Di akhir pertemuan, Ketua LP2M, Dr. Usman, M.Pd.I, menegaskan pentingnya keberlanjutan program perlindungan ini. Mengingat medan dan risiko di lokasi KKL Kabupaten Mempawah cukup dinamis, keselamatan mahasiswa harus menjadi prioritas utama.

"Kami berharap kolaborasi dan kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan ini dapat terus berjalan secara legal dan berkelanjutan, walaupun nantinya terjadi pergantian kepemimpinan di LP2M. Semua ini demi memastikan keselamatan dan ketenangan mahasiswa kita saat berbakti di tengah masyarakat," pungkas Dr. Usman.

Writer: Jazilatul Adawiyah, M.Pd



GEDEBUK #EPISODE 6 : MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG REFLEKSI LEWAT PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

GEDEBUK #EPISODE 6 : MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG REFLEKSI LEWAT PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA


Pontianak, 21 Mei 2026 – Dalam rangka merawat nalar kritis dan memperkuat akar pendidikan bangsa, LP2M IAIN PONTIANAK kembali GEDEBUK (GErakan DEdah BUKu) Episode 6 yang bertajuk "Pemikiran Ki Hadjar Dewantara ". Acara yang berlangsung di Rumah Jurnal LP2M IAIN Pontianak yang dipenuhi aroma khas Roti Kebeng dan Kopi Pancong, kegiatan dihadiri oleh Dewan Pendidikan Kalbar, Sekretaris LP2M, Dosen, Tendik dan Mahasiswa.

Gerakan Dedah Buku kali ini secara khusus mengupas tuntas mahakarya dan kumpulan esai yang merangkum buah pikir Sang Bapak Pendidikan Nasional. Buku ini dinilai sangat relevan untuk dihadirkan kembali di tengah derasnya arus digitalisasi dan komersialisasi pendidikan modern saat ini.

Diskusi berjalan hangat yang dipandu oleh Jazilatul Adawiyah, M. Pd berlangsung dengan menghadirkan pemateri yang luar bisa yang merupakan mahasiswa S2 IAIN Pontianak. Dalam sesi bedah buku, narasumber menegaskan bahwa konsep ikonik Ki Hadjar Dewantara Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani selama ini sering kali hanya dihafal sebagai slogan tanpa diresapi maknanya.



Resta Tutuffia Sari, S. Pd., selaku pemateri, menekankan bahwa " Ki Hadjar Dewantara tidak pernah memandang pendidikan sebagai pabrik pencetak pekerja. Melalui buku ini, kita diingatkan bahwa esensi pendidikan adalah 'menuntun' segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat," ujarnya.

Ditengah-tengah diskusi Bapak Dr. Syamsul Kurniawan, M. S. I selaku K Wadir Pasca & Dewan Pendidikan Kalbar menambahkan bahwa dalam buku ini “Sekolah sebagai ruang hidup bersama untuk membentuk manusia merdeka religius-humanis, dan mampu mengelola perbedaan secara demai melalui keteladanan, kultur sosial, dialog dan pengalaman nyata, dan dianggap perlu dalam dunia pendidikan menerapkan 5 pilar pedekatan dalam kontek pemikiran Ki Hadjar Dewantara diantaranya Humanisasi, Kodesistensi, Keteladanan Sosial, Kebudayaan dan Kemerdekaan Bertanggung Jawab,” ungkapnya.

Peserta yang hadir tampak sangat antusias, terbukti dari beberapa pertanyaan dan dialektika yang terjadi selama sesi tanya jawab, salah satunya ada ibu Ida yang mempertanyaakan “apakah pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini juga bisa di terapkan di sekolah terhadap guru-guru sebagai bentuk dari sarana cara mendidik siswa di ruang lingkup sekolah?” dan begitu pula pertanyaan dari ibu Ratna Devi yang mempertanyakan” apakah ada strategi yang bisa digunakan pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini bagi pembebasan berfikir dan menyampaikan argumen dalam lingkungan sekolah?”.

Pertanyaan ini dijawab oleh pemateri dengan cermat bahwa bisa saja pemikiran ini di terapkan pada sekolah-sekolah hanya saja masih diupayakan oleh penulis untuk pengaplikasiannya. Begitu pula ditambah oleh Dewan Pendidikan Kalbar menambahkan bahwa stretegi praktis mengajar bagi guru bisa berupa Guru sebagai Kurator Atmosfer Moral, Pedagogi Pertemuan, Hidden Curriculum Moderari, Metode Tafsir Sosial, Pendidikan Narasi, Pendidikan “Rasa”, selain itu strategi yang bisa digunakan dengan menggunakan strategi oprasional berupa ASIH (Afirmasi, Simulasi, Interaksi dan Habituasi) menjadi Gerakan Dedah Buku ini diharapkan tidak berhenti sebagai wacana di dalam ruangan saja.

Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama dan pembagian buku gratis kepada beberapa peserta yang aktif memberikan tanggapan kritis sepanjang diskusi berlangsung.

Struktur Organisasi LP2M

Formulir Kontak