LP2M IAIN PONTIANAK: LP2M IAIN Pontianak
IAIN Pontianak Optimis Membangun Kampus Inklusif melalui Pendampingan Relawan PLD bagi Mahasiswa Tuli

IAIN Pontianak Optimis Membangun Kampus Inklusif melalui Pendampingan Relawan PLD bagi Mahasiswa Tuli

 

Pontianak –10 Juni 2026. Hari ke dua kegiatan Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas difokuskan pada pendampingan mahasiswa tuli (tunarungu) sebagai bagian dari upaya mewujudkan kampus yang inklusif.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) ini menghadirkan Fahri sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejumlah hambatan yang masih dihadapi mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan perguruan tinggi.

Menurut Fahri, terdapat tiga hambatan utama yang perlu menjadi perhatian. Pertama, hambatan aksesibilitas fisik, seperti gedung kampus yang belum sepenuhnya dilengkapi jalur landai (ramp), lift, maupun fasilitas toilet yang ramah bagi pengguna kursi roda. Kedua, keterbatasan teknologi bantu dan materi pembelajaran, di mana mahasiswa disabilitas netra maupun tuli sering mengalami kesulitan mengakses materi akademik akibat minimnya buku braille, perangkat lunak pembaca layar, serta penerjemah bahasa isyarat di kelas. Ketiga, hambatan dalam proses akademik, yaitu kesulitan memahami materi perkuliahan karena metode pembelajaran yang belum sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa disabilitas.

Berbeda dengan hari pertama yang lebih menitikberatkan pada penyampaian materi, kegiatan hari kedua menggabungkan sesi materi dan praktik simulasi. Para peserta diajak untuk memahami berbagai situasi yang mungkin dihadapi mahasiswa disabilitas serta mencari solusi yang tepat dalam memberikan pendampingan.

Melalui simulasi tersebut, para relawan PLD dibekali keterampilan untuk mendukung proses pembelajaran mahasiswa inklusi sehingga mereka dapat mengikuti kegiatan akademik secara optimal. Meskipun memiliki fokus yang berbeda, rangkaian kegiatan pada hari pertama dan kedua merupakan satu kesatuan program yang bertujuan meningkatkan kapasitas relawan dalam mendampingi mahasiswa disabilitas.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen IAIN Pontianak dalam membangun lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif, ramah disabilitas, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk berkembang dan meraih prestasi.





LP2M IAIN Pontianak Perkuat Layanan Inklusif Kampus Melalui Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas

LP2M IAIN Pontianak Perkuat Layanan Inklusif Kampus Melalui Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas

IAIN Pontianak – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak melalui Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi menyelenggarakan kegiatan Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat layanan inklusif di lingkungan kampus Institut Agama Islam Negeri Pontianak.

Ketua Panitia Pelaksana, Nopita Sari, M.Pd, menjelaskan bahwa short course relawan ini dilaksanakan selama tiga hari dengan melibatkan enam narasumber. Pesertanya berjumlah lima belas orang, terdiri dari lima tenaga kependidikan dan sepuluh mahasiswa. Pelatihan ini diadakan di Ruang VIP Gedung Abdul Rani Mahmud Alyamani IAIN Pontianak.

"Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kampus yang ramah inklusi, tidak hanya dari segi fasilitas, tetapi yang jauh lebih penting adalah terciptanya keramahan dan semangat gotong royong antara mahasiswa dan pegawai dalam melayani," ujar Nopita Sari.

Mahasiswa semester enam yang mengikuti KKL (Kuliah Kerja Lapangan) Reguler dan Konversi dapat memanfaatkan kegiatan kerelawanan ini sebagai salah satu bentuk pengabdian. Nilai pengabdian yang dilakukan para relawan nantinya bisa dikonversi menjadi nilai KKL.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pejabat kampus, termasuk para Dekan dan Kepala Bagian dari masing-masing Fakultas, sekaligus menjadi ajang sosialisasi menyeluruh tentang pentingnya inklusi. Sekretaris LP2M IAIN Pontianak, Andry Fitriyanto, M.Ud, dalam sambutannya menyatakan bahwa realitas pendampingan disabilitas merupakan tuntutan yang tak terhindarkan, baik dari segi akreditasi program studi dan lembaga maupun standar ISO (International Organization for Standardization).

 "Jumlah mahasiswa disabilitas menjadi salah satu indikator penilaian yang sangat penting," tegasnya. IAIN Pontianak menunjukkan komitmennya sebagai kampus ramah disabilitas dengan membentuk Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi di bawah LP2M, serta menerapkan program Nol UKT bagi mahasiswa disabilitas. Andry Fitriyanto menegaskan, "Pendidikan adalah hak asasi bagi seluruh warga negara Indonesia, termasuk anak-anak disabilitas. Walaupun masih banyak keterbatasan, kami tetap berupaya semaksimal mungkin."

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak individu disabilitas yang belum mendapatkan akses pendidikan secara maksimal karena berbagai keterbatasan. Untuk mengatasi hal ini, IAIN Pontianak telah menyusun pedoman pendampingan disabilitas dan semakin diperkuat dengan adanya Short Course Pendampingan Mahasiswa Disabilitas ini.

"Terkait sarana dan prasarana adalah hal terpenting, namun jika belum tersedia secara lengkap, yang lebih penting lagi adalah kita membangun ekosistemnya," imbuh Andry. Ia berharap output dari kegiatan ini dapat menjadikan mahasiswa dan tenaga kependidikan sebagai pelopor terwujudnya Kampus IAIN Pontianak yang benar-benar inklusif.



Edisi Spesial, GEDEBUK Kupas Diaspora Madura

Edisi Spesial, GEDEBUK Kupas Diaspora Madura

PONTIANAK – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak kembali menggelar Gerakan Dedah Buku (GEDEBUK) #EpisodeSpesial pada Rabu (3/6/2026). Berbeda dari biasanya, episode kali ini lebih spesial. Mulai dari pemilihan lokasi yang bertempat di Ruang Rapat Senat, kemudian dua pemateri yang dihadirkan memiliki latar belakang sangat kontras namun saling melengkapi. Agenda krusial ini dipandu langsung oleh Andry Fitriyanto, selaku Sekretaris LP2M IAIN Pontianak.

Sebuah karya monumental berjudul "DIASPORA MADURA (Resiliensi Strategi dan Transformasi Pasca Konflik Etnik)" karya Abdur Rozaki, sebuah buku yang lahir dari hasil penelitian mendalam selama empat tahun.

Agenda ini menyedot perhatian besar dengan dihadiri oleh 60 peserta yang mendaftar, terdiri dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), mahasiswa, hingga masyarakat umum. Diskusi ini dinilai sangat krusial, terutama sebagai jembatan informasi bagi generasi milenial dan Gen Z yang tidak mengalami langsung peristiwa kelam tersebut secara empiris.

Hadir sebagai panelis, Subro, seorang aktivis sekaligus budayawan etnik Madura di Kalimantan Barat, membagikan perspektifnya yang mendalam sebagai salah satu penyintas konflik. Ia mengurai kembali lini masa konflik komunal di Kalbar, mulai dari konflik 1997 di Kabupaten Bengkayang, konflik 1999 di Kabupaten Sambas, kerusuhan Sampit pada 2001, hingga ketegangan pada tahun 2009 yang melahirkan Seruan Pontianak.

"Buku ini membahas masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua tentang bagaimana menyikapi masa depan agar hal serupa tidak terulang," tegas Subro.
Senada dengan Subro, Eka Henry Ar (Akademisi IAIN Pontianak) yang bertindak sebagai pembedah, memaparkan bahwa konflik sosial sebesar itu tidak berdiri sendiri melainkan berlapis (berlayer-layer). Menurutnya, untuk memahami konflik Kalbar tidak bisa hanya melihat tahun 1997 atau 1999 saja, melainkan harus membaca sejarah kekerasan yang panjang sejak masa kolonialisme, Orde Lama, hingga Orde Baru.

Eka menjelaskan tiga faktor utama pemicu konflik yang diulas dalam buku:
  1. Benturan atau perbedaan kultural.
  2. Kelemahan institusional.
  3. Persaingan ekonomi.

"Suku-suku sebenarnya adalah korban. Hal terpenting dari buku ini adalah melihat bagaimana reaksi atau respon pasca-konflik. Melalui resiliensi, strategi, dan transformasi, terjadilah mobilitas sehingga membuat etnik Madura kini mampu setara di berbagai sektor dan mengubah stereotip lama seiring berjalannya waktu," jelas Eka Henry.

Suasana acara berlangsung sangat dinamis. Peserta tampak antusias dan menyimak dengan saksama setiap pemaparan. Sesi diskusi pun menghangat ketika muncul pertanyaan kritis dari peserta mengenai kenyataan di lapangan, seperti masih adanya resistensi atau penolakan terselubung terkait ruang tinggal bagi etnik Madura di wilayah tertentu seperti Sambas yang menunjukkan pekerjaan rumah toleransi belum sepenuhnya usai.

Kegiatan ini menuai respons positif dari para mahasiswa yang hadir. Mereka menilai bedah buku seperti GEDEBUK ini memberikan sudut pandang baru yang lebih jernih dan objektif. Reza Kurniawan, mahasiswa IAIN Pontianak, mengungkapkan rasa bangganya bisa hadir dalam forum ilmiah ini.

"Kegiatan ini sangat positif untuk mahasiswa. Kita bisa melihat, memahami, dan mengambil ibroh (pelajaran) dari pesan yang disampaikan. Lewat pemateri yang luar biasa, saya mendapatkan sudut pandang baru yang lebih luas, sekaligus mengevaluasi persepsi yang mungkin selama ini salah saya pahami," ujarnya.

Apresiasi serupa juga datang dari Dedek, mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) yang sengaja hadir. Meski belum membaca bukunya secara utuh, ia merasa diskusi ini memberikan gambaran yang sangat komprehensif.

"Saya senang sekali hari ini bisa melihat konteks konflik etnis Kalbar 1999 secara menyeluruh. Menariknya, forum ini berhasil menggeser sudut pandang bahwa konflik terjadi bukan sekadar karena perbedaan kultur, melainkan akibat kelalaian sistem dan kegagalan struktural. Buku ini diharapkan bisa membuka ruang kritis dan ruang diskusi terhadap hak-hak korban serta penyintas," pungkas Dedek.

Melalui episode spesial GEDEBUK ini, LP2M IAIN Pontianak berharap edukasi sejarah berbasis riset ini dapat terus dirawat, demi membangun masa depan Kalimantan Barat yang lebih damai, inklusif, dan harmonis.





 

 

Tingkatkan Keamanan Mahasiswa KKL, LP2M Upayakan Jaminan Sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan

Tingkatkan Keamanan Mahasiswa KKL, LP2M Upayakan Jaminan Sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan

 

Pontianak – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) menggelar audiensi dan sosialisasi bersama BPJS Ketenagakerjaan (BPJS TK). Pertemuan penting ini berlangsung di Ruang Rapat LP2M, sebagai langkah awal untuk memberikan jaminan perlindungan bagi ratusan mahasiswa yang akan segera melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL).

Rapat koordinasi ini dihadiri langsung oleh Ketua LP2M, Dr. Usman, M.Pd.I, Sekretaris LP2M, Andry Fitrianto, M.Ud, serta Koordinator Pusat (Korpus) Pengabdian pada Masyarakat, Dr. Budiyono, M.Pd. Sementara dari pihak BPJS Ketenagakerjaan, hadir Tri Aji Pamungkas dan Muhammad Ikram selaku narasumber.

Dalam pemaparannya, Tri Aji Pamungkas menjelaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan 5 program jaminan sosial utama, yaitu:

  • JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja)
  • JKM (Jaminan Kematian)
  • JHT (Jaminan Hari Tua)
  • JP (Jaminan Pensiun)
  • JKP (Jaminan Kehilangan Pekerjaan)

Ia menegaskan bahwa kepesertaan BPJS TK terbagi menjadi segmen formal dan informal. Menariknya, perlindungan ini tidak hanya menyasar pekerja kantoran, tetapi juga tahanan asimilasi hingga mahasiswa magang atau Kuliah Kerja Nyata (KKN/KKL) yang masuk dalam kategori pekerja temporary (informal).

"Untuk segmen informal seperti mahasiswa KKL, sistemnya sangat fleksibel. Jika sedang aktif berkegiatan maka membayar iuran, dan jika sudah selesai maka tidak perlu membayar lagi. Jadi, karena mahasiswa KKL ini turun ke lapangan selama 40 hari, mereka cukup membayar iuran untuk masa 2 bulan saja," jelas Tri Aji.

Lebih lanjut, ia memberikan kabar baik bahwa pada tahun ini terdapat program diskon iuran sebesar 50% yang berlaku hingga Desember 2026. Pihak BPJS TK pun secara terbuka mengajak institusi kampus untuk menjalin kerja sama demi keselamatan akademik ini. Tak lupa, mereka juga mengedukasi tata cara klaim yang mudah jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di lapangan.

Menanggapi tawaran kerja sama tersebut, Sekretaris LP2M, Andry Fitrianto, M.Ud., menyambut positif dan akan mengupayakan slot edukasi bagi mahasiswa setelah mendapatkan persetujuan dari pimpinan.

"Kebetulan dalam waktu dekat akan ada agenda pembekalan KKL. Kami mempersilakan bapak-bapak dari BPJS Ketenagakerjaan untuk hadir memberikan sosialisasi langsung kepada mahasiswa. Mengenai pembiayaan, sebenarnya jika masuk dalam penganggaran institusi akan sangat baik. Namun, karena anggaran tahun ini sudah disahkan tahun lalu, untuk periode ini belum bisa dicover kampus. Mudah-mudahan tahun depan bisa kita anggarkan agar tidak membebani mahasiswa," urai Andry.

Di sisi lain, Korpus Pengabdian pada Masyarakat, Dr. Budiyono, M.Pd., ikut mengatur teknis pelaksanaan sosialisasi agar berjalan efektif bagi 1.055 mahasiswa yang akan diterjunkan ke Kabupaten Mempawah tersebut.

"Rencananya sosialisasi akan dilaksanakan seminggu atau H-3 sebelum penerjunan lapangan. Namun, jika dirasa waktunya terlalu mepet, kita bisa kondisikan alternatif lain menggunakan Zoom Meeting. Intinya, kami menyambut baik agenda ini karena manfaat perlindungannya sangat besar bagi mahasiswa," kata Dr. Budiyono.

Di akhir pertemuan, Ketua LP2M, Dr. Usman, M.Pd.I, menegaskan pentingnya keberlanjutan program perlindungan ini. Mengingat medan dan risiko di lokasi KKL Kabupaten Mempawah cukup dinamis, keselamatan mahasiswa harus menjadi prioritas utama.

"Kami berharap kolaborasi dan kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan ini dapat terus berjalan secara legal dan berkelanjutan, walaupun nantinya terjadi pergantian kepemimpinan di LP2M. Semua ini demi memastikan keselamatan dan ketenangan mahasiswa kita saat berbakti di tengah masyarakat," pungkas Dr. Usman.

Writer: Jazilatul Adawiyah, M.Pd



GEDEBUK #EPISODE 6 : MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG REFLEKSI LEWAT PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

GEDEBUK #EPISODE 6 : MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG REFLEKSI LEWAT PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA


Pontianak, 21 Mei 2026 – Dalam rangka merawat nalar kritis dan memperkuat akar pendidikan bangsa, LP2M IAIN PONTIANAK kembali GEDEBUK (GErakan DEdah BUKu) Episode 6 yang bertajuk "Pemikiran Ki Hadjar Dewantara ". Acara yang berlangsung di Rumah Jurnal LP2M IAIN Pontianak yang dipenuhi aroma khas Roti Kebeng dan Kopi Pancong, kegiatan dihadiri oleh Dewan Pendidikan Kalbar, Sekretaris LP2M, Dosen, Tendik dan Mahasiswa.

Gerakan Dedah Buku kali ini secara khusus mengupas tuntas mahakarya dan kumpulan esai yang merangkum buah pikir Sang Bapak Pendidikan Nasional. Buku ini dinilai sangat relevan untuk dihadirkan kembali di tengah derasnya arus digitalisasi dan komersialisasi pendidikan modern saat ini.

Diskusi berjalan hangat yang dipandu oleh Jazilatul Adawiyah, M. Pd berlangsung dengan menghadirkan pemateri yang luar bisa yang merupakan mahasiswa S2 IAIN Pontianak. Dalam sesi bedah buku, narasumber menegaskan bahwa konsep ikonik Ki Hadjar Dewantara Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani selama ini sering kali hanya dihafal sebagai slogan tanpa diresapi maknanya.



Resta Tutuffia Sari, S. Pd., selaku pemateri, menekankan bahwa " Ki Hadjar Dewantara tidak pernah memandang pendidikan sebagai pabrik pencetak pekerja. Melalui buku ini, kita diingatkan bahwa esensi pendidikan adalah 'menuntun' segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat," ujarnya.

Ditengah-tengah diskusi Bapak Dr. Syamsul Kurniawan, M. S. I selaku K Wadir Pasca & Dewan Pendidikan Kalbar menambahkan bahwa dalam buku ini “Sekolah sebagai ruang hidup bersama untuk membentuk manusia merdeka religius-humanis, dan mampu mengelola perbedaan secara demai melalui keteladanan, kultur sosial, dialog dan pengalaman nyata, dan dianggap perlu dalam dunia pendidikan menerapkan 5 pilar pedekatan dalam kontek pemikiran Ki Hadjar Dewantara diantaranya Humanisasi, Kodesistensi, Keteladanan Sosial, Kebudayaan dan Kemerdekaan Bertanggung Jawab,” ungkapnya.

Peserta yang hadir tampak sangat antusias, terbukti dari beberapa pertanyaan dan dialektika yang terjadi selama sesi tanya jawab, salah satunya ada ibu Ida yang mempertanyaakan “apakah pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini juga bisa di terapkan di sekolah terhadap guru-guru sebagai bentuk dari sarana cara mendidik siswa di ruang lingkup sekolah?” dan begitu pula pertanyaan dari ibu Ratna Devi yang mempertanyakan” apakah ada strategi yang bisa digunakan pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini bagi pembebasan berfikir dan menyampaikan argumen dalam lingkungan sekolah?”.

Pertanyaan ini dijawab oleh pemateri dengan cermat bahwa bisa saja pemikiran ini di terapkan pada sekolah-sekolah hanya saja masih diupayakan oleh penulis untuk pengaplikasiannya. Begitu pula ditambah oleh Dewan Pendidikan Kalbar menambahkan bahwa stretegi praktis mengajar bagi guru bisa berupa Guru sebagai Kurator Atmosfer Moral, Pedagogi Pertemuan, Hidden Curriculum Moderari, Metode Tafsir Sosial, Pendidikan Narasi, Pendidikan “Rasa”, selain itu strategi yang bisa digunakan dengan menggunakan strategi oprasional berupa ASIH (Afirmasi, Simulasi, Interaksi dan Habituasi) menjadi Gerakan Dedah Buku ini diharapkan tidak berhenti sebagai wacana di dalam ruangan saja.

Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama dan pembagian buku gratis kepada beberapa peserta yang aktif memberikan tanggapan kritis sepanjang diskusi berlangsung.

LP2M IAIN Pontianak Perkuat Sinergi dengan Pemkab Mempawah untuk KKL 2026

LP2M IAIN Pontianak Perkuat Sinergi dengan Pemkab Mempawah untuk KKL 2026


Mempawah – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak terus mematangkan persiapan pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tahun 2026 melalui kegiatan audiensi bersama Pemerintah Kabupaten Mempawah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 8 April 2026, bertempat di Kantor Bupati Mempawah.

Audiensi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah guna memastikan program KKL berjalan efektif serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, LP2M IAIN Pontianak memaparkan rencana pelaksanaan KKL 2026 yang dirancang lebih terarah dan berbasis kebutuhan masyarakat. Program KKL akan difokuskan pada beberapa aspek utama, antara lain pemberdayaan ekonomi masyarakat, penguatan moderasi beragama, serta peningkatan literasi digital di tingkat desa.

Ketua LP2M IAIN Pontianak, Dr. Usman, menyampaikan bahwa KKL tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban akademik mahasiswa, tetapi juga sebagai wadah kontribusi nyata dalam pembangunan masyarakat. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta KKL, tetapi benar-benar mampu memberikan dampak nyata melalui program yang solutif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Mempawah melalui Asisten I, Jamila, menyambut baik rencana pelaksanaan KKL 2026. Ia menilai kehadiran mahasiswa dapat menjadi mitra strategis dalam mendukung berbagai program pembangunan daerah, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan kehidupan sosial keagamaan masyarakat.

Sebagai tindak lanjut dari audiensi ini, LP2M bersama pihak Pemerintah Kabupaten Mempawah akan melakukan survei lapangan guna menentukan lokasi penempatan mahasiswa secara lebih tepat. 


GEDEBUK #5 “Reset Indonesia” Dorong Refleksi dan Arah Baru Pembangunan Bangsa

GEDEBUK #5 “Reset Indonesia” Dorong Refleksi dan Arah Baru Pembangunan Bangsa

 

Pontianak, 09 Februari 2026 – LP2M IAIN Pontianak kembali menggelar kegiatan GEDEBUK (GErakan DEdah BUKu) yang ke-5 di Ruang Rumah Jurnal dengan disuguhkan Roti Kebeng dan Kopi Pancong.  Kesempatan ini membedah buku dengan judul “Reset Indonesia” ditulis oleh tim lintas generasi dari Ekpedisi Indonesia Baru, yaitu Farid Gaban, Dandhy Dwi Laksono, Yusuf Priambodo dan Benaya Harobu kegiatan ini telah sukses diselenggarakan sebagai ruang diskusi intelektual yang membahas arah baru pembangunan bangsa di tengah tantangan global dan dinamika nasional yang terus berkembang. Kegiatan ini dipandu oleh Bapak Ya’kub, S. Kom.I dan dihadiri oleh Dosen lingkungan IAIN Pontianak, mahasiswa, serta staf LP2M juga ikut terlibat.

Bapak Noviansyah, S. Pd. I., M. E selaku pemateri menyampaikan bahwa buku ini disusun dari hasil perjalanan ke berbagai pelosok Indonesia untuk merekam realita yang terabaikan oleh narasi-narasi yang dibagun oleh beberapa pemilik kebijakan, Reset yang dimaksud bukanlah menggantikan negara, melainkan menata ulang aturan main agar Indonesia kembali pada tujuan keadilan sosial. “Sebenarnya Isi dari buku ini bukan hanya sekedar mengkritik ketimpangan, kerusakan serta polemik lainnya, melainkan mengajak bangsa untuk menekan tombol reset bagi yang kebhabisan napas ditengah perlombaan modernitas”.

Dalam kegiatan ini, “Reset Indonesia” dibedah secara komprehensif dengan menyoroti gagasan utama tentang perlunya pembaruan cara berpikir, tata kelola, serta strategi pembangunan nasional agar Indonesia mampu beradaptasi dan bangkit menghadapi perubahan zaman, ditengah-tengah diskusi peserta antusias menyampaikan pendapat bahwa konsep “reset” bukan sekadar perubahan teknis, melainkan transformasi menyeluruh yang mencakup aspek sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan kritis dan reflektif dari peserta. Isu-isu strategis seperti kualitas sumber daya manusia, kepemimpinan, inovasi, serta peran generasi muda menjadi fokus utama dalam dialog. Peserta juga diajak untuk melihat peluang dan tantangan Indonesia ke depan, sekaligus merumuskan langkah konkret yang dapat dilakukan dari lingkup individu hingga kebijakan publik.

Melalui kegiatan bedah buku ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih mendalam serta kesadaran kolektif akan pentingnya perubahan paradigma demi mewujudkan Indonesia yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan. Acara ini menjadi bukti bahwa literasi dan diskusi publik memiliki peran penting dalam membangun optimisme dan arah baru bagi masa depan bangsa.






LP2M IAIN Pontianak Gelar Pra Raker dan Rapat Tinjauan Manajemen 2026

LP2M IAIN Pontianak Gelar Pra Raker dan Rapat Tinjauan Manajemen 2026

 

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak menggelar kegiatan Pra Rapat Kerja (Pra Raker) dan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) pada Kamis, 5 Februari 2026, bertempat di Ruang Rapat LP2M. Kegiatan ini diikuti oleh para Koordinator Pusat dan staf di lingkungan LP2M IAIN Pontianak.

Kegiatan Pra Raker dan RTM ini dilaksanakan sebagai bagian dari evaluasi serta perumusan perencanaan strategis program kerja LP2M dengan mengusung tema besar “Review Program Kerja LP2M Tepat Sasaran Menunjang PERKIN Rektor.” Jalannya kegiatan dipandu oleh Sekretaris LP2M, Andry Fitriyanto, M.Ud, sehingga seluruh rangkaian acara berlangsung tertib dan sesuai dengan agenda yang telah ditetapkan.

Dalam kegiatan tersebut, LP2M menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten sesuai dengan bidangnya masing-masing. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Ali Hasmy, M.Si, menyampaikan materi terkait Arah Kebijakan LP2M, yang menjadi dasar dan pedoman dalam penguatan serta pengembangan program kerja LP2M ke depan.

Selanjutnya, Perencana Ahli Madya, Suhaimi, S.Ag., M.Pd, memaparkan materi mengenai Penyusunan Anggaran dan Kegiatan, yang bertujuan untuk memastikan keselarasan antara perencanaan program dengan kebijakan serta alokasi anggaran yang tersedia.

Materi terkait Pelaporan dan Pertanggungjawaban Kegiatan disampaikan oleh Kepala Satuan Pengawas Internal, Dr. Fauziah, S.Pd., MM, yang menekankan pentingnya akuntabilitas, transparansi, serta kepatuhan terhadap ketentuan dan regulasi yang berlaku dalam pelaksanaan setiap kegiatan LP2M.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) LP2M, Omar Mukhtar Al Assad, S.E., M.Ak., Ak, menyampaikan paparan mengenai Pengeluaran Anggaran Kegiatan, khususnya terkait mekanisme pengelolaan dan tata kelola keuangan yang efektif, efisien, dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Melalui pelaksanaan Pra Raker dan Rapat Tinjauan Manajemen ini, pimpinan LP2M IAIN Pontianak berharap para jajaran LP2M memiliki kesamaan persepsi dan komitmen dalam menyusun serta melaksanakan program kerja yang terarah, efektif, dan tepat sasaran. Dengan sinergi yang kuat antarunit, LP2M diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal dalam mendukung pencapaian Perjanjian Kinerja (PERKIN) Rektor IAIN Pontianak.

Penulis. Fathaniah






GeDeBuk Episode 4: Bedah Buku “Logika Adalah Senjata” Ajak Peserta Berpikir Kritis dan Berani Berbeda

GeDeBuk Episode 4: Bedah Buku “Logika Adalah Senjata” Ajak Peserta Berpikir Kritis dan Berani Berbeda

 

Pontianak, 15 Januari 2026 — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak kembali menggelar kegiatan GeDeBuk (Gerakan Dedah Buku) Episode 4, Kamis (15/1), bertempat di Ruang Rumah Jurnal, Gedung Rektorat lantai dasar. Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–09.00 WIB ini membedah buku Logika Adalah Senjata karya Soe Tjen Marching.

Kegiatan bedah buku ini diikuti oleh peserta dari berbagai unsur civitas akademika, yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan (tendik), serta mahasiswa. Keberagaman latar belakang peserta turut memperkaya diskusi dan pertukaran gagasan selama kegiatan berlangsung.

Bedah buku menghadirkan Andry Fitriyanto, M.Ud. sebagai narasumber dengan Adi Santoso, S.Pd.I. sebagai moderator. Diskusi berlangsung interaktif dengan mengulas pentingnya kemampuan berpikir logis dan kritis dalam menyikapi informasi di era digital.

Buku Logika Adalah Senjata dipaparkan sebagai panduan praktis untuk melatih cara berpikir rasional melalui pengenalan logika sederhana, pembongkaran trik retorika seperti ethos, pathos, dan logos, serta pengenalan berbagai kesalahan logika (fallacies) yang kerap digunakan dalam politik, media, dan iklan. Buku ini juga menawarkan sudut pandang logika yang beragam dan aplikatif untuk kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta diskusi, Eka Hendry, M.Si., menyampaikan pandangannya bahwa keberanian berpikir berbeda merupakan bagian penting dari proses intelektual. “Jangan takut berpikiran aneh, karena kita tidak tahu apakah pikiran aneh itu akan menjadi kebenaran di masa yang akan datang,” ujarnya.

Melalui kegiatan GeDeBuk, LP2M IAIN Pontianak berharap dapat terus menumbuhkan budaya literasi, diskusi, dan berpikir kritis di lingkungan kampus, serta mendorong sivitas akademika menjadikan logika sebagai senjata dalam menghadapi kompleksitas informasi di era modern.

Penulis: Fathaniah




LP2M IAIN Pontianak Sosialisasikan Program Bantuan Penelitian Berbasis SBK Tahun 2026

LP2M IAIN Pontianak Sosialisasikan Program Bantuan Penelitian Berbasis SBK Tahun 2026

 

Dalam rangka meningkatkan kualitas, bobot penelitian, serta transparansi pelaksanaan riset, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak menggelar Sosialisasi Program Bantuan Penelitian Berbasis Standar Biaya Keluaran (SBK) Tahun 2026, Rabu (7/1/2026). Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid di Ruang Senat Lantai 4 IAIN Pontianak dan diikuti oleh dosen IAIN Pontianak secara luring maupun daring melalui Zoom Meeting.



Kegiatan sosialisasi dibuka oleh Sekretaris LP2M IAIN Pontianak, Andry Fitriyanto, M.Ud, yang bertindak sebagai moderator. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua LP2M IAIN Pontianak, Dr. Usman, M.Pd.I. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini merupakan langkah LP2M dalam menyamakan persepsi seluruh dosen peneliti, sekaligus sebagai upaya meningkatkan keterbukaan proses penelitian berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan penelitian pada tahun sebelumnya.

Selanjutnya, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Pontianak, Dr. Ali Hasmy, M.Si, dalam arahannya menekankan sejumlah hal penting dan bersifat urgen yang perlu diperhatikan oleh para peneliti, terutama terkait kebijakan serta ketentuan yang tertuang dalam Petunjuk Teknis Penelitian Tahun 2026, termasuk peningkatan bobot penelitian yang berorientasi pada luaran dan dampak.

Pemaparan teknis Petunjuk Teknis Penelitian Tahun 2026 disampaikan oleh Koordinator Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M IAIN Pontianak, Dr. Syarifah Aminah, M.Si. Dalam paparannya, beliau menjelaskan secara rinci mekanisme pelaksanaan penelitian, mulai dari pengajuan proposal, kriteria penilaian, hingga tahapan pelaksanaan dan pelaporan penelitian berbasis SBK.

Selama kegiatan berlangsung, sosialisasi ini mendapat antusiasme dan respon positif dari para dosen di lingkungan IAIN Pontianak. Hal tersebut terlihat dari aktifnya peserta, baik yang hadir secara langsung maupun melalui Zoom, dalam menyampaikan pertanyaan dan tanggapan. Para dosen menyambut baik kebijakan peningkatan bobot penelitian serta komitmen LP2M dalam mewujudkan transparansi proses penelitian.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, LP2M IAIN Pontianak berharap terbangun pemahaman yang selaras antara pengelola dan peneliti, sehingga pelaksanaan penelitian ke depan dapat berjalan lebih tertib, transparan, akuntabel, serta menghasilkan luaran penelitian yang berkualitas dan berdampak bagi pengembangan keilmuan, kelembagaan, dan masyarakat.

Penulis : Fathaniah, M.Pd



Struktur Organisasi LP2M

Formulir Kontak