IAIN Pontianak Tuan Rumah Seminar Internasional Manuskrip Hadirkan Pembicara 9 Negara

0
72

Walikota Pontianak, Sutarmidji, SH, M. Hum, secara resmi membuka kegiatan International Conference on Nusantara Manuscripts yang menghadirkan pembicara dari 9 negara yang diadakan di rumah dinas Walikota sekaligus acara jamuan makan malam pada Selasa malam, 15 September 2015.

Orang nomor satu di Kota Pontianak yang akrab disapa Bang Midji ini, menuturkan bahwa Kota Pontianak sangat kaya dengan manuskrip kuno, sehingga kegiatan konferensi internasional ini memang tepat dilaksanakan di Pontianak.

Sutarmidji sangat mengapresiasi dan menyambut baik seminar manuskrip tersebut, kedatangan peserta yang diikuti sembilan negara yakni Amerika, Prancis, Belanda, Jerman, Inggris, Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei.

“Atas nama Pemerintah Kota Pontianak, saya mengucapkan terima kasih karena telah memilih Pontianak sebagai tempat digelarnya seminar internasional manuskrip yang diselenggarakan atas kerja sama antara Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Manasa, Perpustakaan Nasional RI dan Pemkot Pontianak,” ucapnya menyambut peserta seminar.

Sutarmidji mengatakan, dengan adanya konferensi ini bisa menunjukkan bagaimana kemajuan pemikiran masyarakat di masa lalu, bagaimana kearifan lokal masyarakat Kalimantan Barat pada waktu itu.

“Manuskrip sangat berkaitan dengan nilai budaya, banyak sekali tutur kalimat yang mudah membuka pemahamam pembaca atau pengkaji sastra klasik. Sedangkan sastra modern agak sulit dicerna karena tidak mudah pemaknaannya biasanya dibarengi dengan karya-karya atau musik-musik tradisional”, jelasnya.

Menurutnya, IAIN Pontianak merupakan wadah yang tepat untuk mendiskusikan manuskrip karena merupakan lembaga intelektual yang mampu mensinergikan hal-hal yang berbaur kearifan lokal dan modern, serta keagamaan.

Hal senada disampaikan Rektor IAIN Pontianak, Dr. H. Hamka Siregar, M. Ag, IAIN Pontianak sebagai lembaga pendidikan keagamaan akan berikhtiar dan berkomitmen untuk menggali dan mengkaji naskah-naskah yang tersebar di nusantara, khususnya lagi di Pontianak.

Para peneliti yang bersemangat mengkaji manuskrip-manuskrip lokal ini diharapkan mampu menggali hal-hal positif yang terdapat pada kebudayaan lokal. Menurut Hamka, Islam sesungguhnya memiliki kaitan yang kuat tentang naskah-naskah klasik, sehingga IAIN Pontianak harus mampu mengkaji lebih dalam soal budaya dan agama yang terdapat pada manuskrip-manuskrip yang tersebar di nusantara.

“Dalam Islam kita bisa lihat banyak sekali khasanah intelektual yang bisa digali. Namun, yang terpenting dalam pemanfaatan naskah-naskah klasik ini tidak hanya soal pengkajian namun juga pemeliharaannya. Pengalaman berharga bisa kita petik dari sejarah, adanya konflik di timur tengah menyebabkan adanya pembakaran perpustakaan, Baitul Hikmah, di Baghdad. Karenanya, untuk menjaga naskah agar tidak punah dibutuhkan kesadaran untuk selalu menjaga naskah-naskah ini dengan baik”, terang Hamka.

Menanggapi kegiatan konferensi internasional yang diselenggarakan di IAIN Pontianak, Hamka menilai agenda ini dianggap penting karena; Pertama, adanya intelektual nusantara yang khas dalam setiap naskah; Kedua, rapuhnya kondisi manuskrip sehingga harus dipelihara dengan baik; Ketiga, perlunya digitalisasi naskah karena konflik dan bencana alam bisa menjadi faktor rusaknya sebuah naskah.

Hamka menambahkan, manuskrip keagamaan yang tersebar di seluruh nusantara kebanyakan ditulis dengan bahasa Arab Melayu sehingga memiliki kemampuan bahasa arab yang mumpuni merupakan keharusan. “Kelemahan para filolog dalam mengkaji sebuah naskah biasanya adalah bahasa. Dalam kajian naskah keagamaan, para filolog diharapkan mampu berbahasa Arab dengan baik karena kebanyakan syair-syair keagamaan klasik ditulis dalam bahasa Arab, terutama di Pontianak, menggunakan bahasa Melayu Arab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here